Pemprov Akan Tertibkan Limbah Kelapa Sawit

Kompas.com - 23/06/2009, 02:19 WIB

BENGKULU, KOMPAS.com - Limbah pabrik pengolahan minyak mentah kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) dan pabrik karet yang beroperasi di Bengkulu akan diteliti dan ditertibkan untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup.
   
"Kita sudah mengambil sampel limbah pabrik karet dan CPO yang dibuang ke sungai, kini dalam proses analisis," Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Bengkulu, Surya Gani di Bengkulu, Senin (22/6).
   
Limbah pabrik CPO yang diteliti itu antara lain milik PT Pamor Ganda, sedangkan pabrik karet adalah milik PT BAM di Kembang Sri yang membuang limbah ke Sungai Air Bengkulu.
   
Pengawasan yang dilakukan dengan meneliti instalasi pengelolaan limbah dan emisi gas buang yang sebagian besar di buang ke sungai dan mengakibatkan pencemaran sungai dan lingkungan sekitar.
   
Selain meneliti limbah pabrik CPO dan karet, BLH juga tengah melakukan penelitian terhadap kualitas air sungai yaitu Sungai Air Bengkulu yang masih menjadi sumber air PDAM Kota Bengkulu dan Sungai Musi serta Sungai Nasal. "Kita prioritaskan sungai yang menjadi andalan masyarakat untuk sumber air minum, salah satunya Sungai Air Bengkulu," katanya.
   
Kualitas dan kondisi air sungai bisa dijadikan gambaran kerusakan lingkungan yang terjadi di hulu maupun di sepanjang aliran sungai.
   
Sementara itu, Wakil Gubernur Bengkulu, Syamlan Lc mengatakan perusahaan yang membuang limbah karet dan sawit yang mencemari lingkungan agar ditertibkan. "Kalau perlu langsung ditutup karena sudah melanggar aturan, jangan dikira menjaga lingkungan itu untuk orang lain tetapi juga  untuk diri sendiri," tambahnya.
   
Dalam keterangan terpisah, Manajer Pendidikan Eksekutif Nasional Walhi Bengkulu, Ali Akbar menyatakan, penertiban itu berarti pemerintah memaafkan tindakan pencemaran yang dilakukan perusahaan tersebut. "Justru harus ditangkap dan dikenakan sanksi UU lingkungan hidup atau UU konservasi, karena perusahaan perkebunan di Bengkulu ini tidak ada yang menaati sempadan sungai, semua dilakukan untuk tanaman sawit dan karet,"jelasnya.
   
Ia mengharapkan Pemprov Bengkulu dan kabupaten/kota agar tegas bertindak dalam menertibkan perusahaan perusak lingkungan, karena dampaknya kian dirasakan masyarakat.
   
Beberapa sungai di Bengkulu sudah tidak layak minum atau digunakan sebagai sumber kehidupan masyarakat akibat ulah koorporasi tersebut yang mencemari sungai antara lain Sungai Air Bengkulu dan Sungai Senabah.
    

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau