Kakao, Komoditas Unggulan yang Masih Diabaikan

Kompas.com - 23/06/2009, 10:32 WIB

Hermas E Prabowo

Kakao merupakan salah satu komoditas pertanian andalan dengan peranan penting dalam perekonomian Indonesia selain kelapa sawit, karet, kopi, teh, dan rempah-rempah. Namun, kakao tidak kunjung didukung industri pengolahan dan manajemen distribusi yang mumpuni agar bisa mendatangkan nilai tambah yang berlipat-lipat.

Padahal, selain sebagai penghasil devisa negara, kakao menjadi sumber pendapatan petani, penciptaan lapangan kerja, mendorong tumbuhnya usaha agrobisnis dan agroindustri serta pengembangan wilayah. Potensi penyerapan tenaga kerja dari industri pengolahan juga terbuka lebar.

Pada tahun 2007, luas areal tanaman kakao di Indonesia 1.461.889 hektar (ha), yang terdiri atas 967.804 ha berstatus tanaman menghasilkan, 385.771 ha tanaman belum menghasilkan, dan 108.314 ha tanaman tidak menghasilkan atau rusak.

Perkebunan kakao di Indonesia didominasi perkebunan rakyat dengan porsi 92,34 persen, yang melibatkan petani sebanyak 1.400.636 kepala keluarga. Nilai ekspor kakao tahun 2007 mencapai 950,6 juta dollar AS atau sekitar Rp 9,50 triliun, yang menempatkan kakao sebagai penghasil devisa terbesar untuk ekspor komoditas perkebunan setelah kelapa sawit dan karet.

Produksi kakao terbesar atau 63,3 persen berasal dari Sulawesi, meliputi Provinsi Sulawesi Tengah dengan luas tanaman kakao 257.011 ha, Sulawesi Barat 156.88 ha, Sulawesi Tenggara 244.629 ha, dan Sulawesi Selatan 252.574 ha.

Dari sisi potensi, peluang untuk mendapatkan nilai tambah dari produk kakao luar biasa besar. Namun, yang terjadi hingga saat ini, peluang itu belum digarap secara sungguh-sungguh. Dari dulu hingga saat ini Indonesia hanya bisa mengekspor biji kakao.

Barang konsumtif

Guru besar Sosial Ekonomi Pertanian dari Universitas Jember, Rudi Wibowo, mengungkapkan, ada persoalan besar dalam membangun industri kakao, mulai dari on farm hingga sistem distribusinya.

Pada tingkat on farm, produk kakao Indonesia banyak dikuasai kakao jenis bulk yang kualitasnya rendah. Adapun kakao surga atau idel masih relatif kecil. Kakao yang ada sekarang diproduksi oleh perkebunan kakao rakyat, yang kerap dipersoalkan kualitasnya.

Meski begitu, saat ini produk kakao Indonesia masuk empat besar di dunia. Keunggulan ini didukung oleh potensi besar karena produk-produk kakao pada barang-barang konsumsi terbentang lebar, mulai dari cokelat, campuran susu, hingga produk lainnya.

Apabila dikemas dengan baik dengan mengedepankan pencitraan, seperti halnya produk ko- pi, kakao bisa dijadikan industri makanan yang konsumtif. Selain dari aspek kesehatan, produk kakao juga menyehatkan.

Sayangnya, saat ini pasar produk akhir kakao domestik tidak terlalu besar. Produk kakao seperti cokelat lebih banyak diminati di negara lain, seperti Eropa dan AS. Minimnya konsumsi kakao domestik tidak lain karena konsumsi kakao belum membudaya. Perlu upaya keras dan terus-menerus untuk menjadikan produk kakao melekat pada diri konsumen seperti halnya teh dan kopi.

Karena pasar kakao olahan lebih banyak di luar negeri, upaya membangun industri pengolahan kakao dan industri hilir kakao tentu akan menghadapi banyak tantangan. Belum lagi kalau dilihat saat ini, persoalan konsumsi bukan sekadar apa yang akan dimakan, tetapi bagaimana mampu mendekatkan produk kepada konsumen. Karena itu, perlu jaringan distribusi yang harus dikuasai.

Mendekati konsumen

Produk kakao yang bagus, tetapi akan sulit dikenal jika tanpa upaya keras untuk membangun distribusi yang mendekatkan kepada konsumen. Akibatnya, meski produk bagus, tetap tidak terserap pasar. Industri pengolahan kakao di negara lain telah bersinergi sedemikian rupa guna membangun jaringan distribusi hingga ke negara lain.

”Perang demikian modern dalam manajemen distribusi dan pemasaran. Tidak bisa lagi berdiri sendiri. Ada peluang masuk ke pasar tradisional, tetapi aspek mutu kerap dipertanyakan. Kalau sampai terjadi keracunan, persoalan menjadi besar. Karena itu, hampir semua produk pangan masuk dalam kendali perusahaan multi nasional,” kata Rudi Wibowo.

Peluang membangun industri hilir dengan membidik pasar lokal dan ekspor memang besar, apalagi kita memiliki bahan bakunya. ”Namun, apakah kita cukup mampu untuk menahan semua itu,” katanya.

Ketua Badan Pertimbangan Organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Siswono Yudo Husodo mengatakan, kondisi industri kakao di dalam negeri memang sangat mengenaskan.

Dari sisi kebijakan, justru itu mendorong pengusaha untuk merelokasi pabriknya dari Indonesia ke Malaysia. Pabrik Petra Foods telah pindah ke Malaysia. Penyebabnya, bea masuk kakao dari Indonesia dan Malaysia mendapat perlakuan yang berbeda oleh China.

Kakao Malaysia dikenai bea masuk nol persen hingga 5 persen, sedangkan kakao Indonesia dikenai bea masuk 10 persen hingga 22 persen.

Pembeli kakao asal Eropa juga mulai beralih ke negara lain karena penurunan kualitas kakao Indonesia. Pembeli mengenakan diskon harga dan juga meminta perlakuan khusus kakao asal Indonesia.

Rudi mengatakan, semua itu tergantung dari bagaimana pemerintah bisa melihat peluang. Peluang tetap akan menjadi peluang kalau tidak ada dorongan pemerintah mengarah ke pembangunan industri hilir kakao.

Perlu ada upaya keras untuk ”menggarap” konsumen agar tertarik dengan produk kakao lokal. Selain memberikan dukungan kepada industri dalam negeri dengan berbagai fasilitas, upaya memengaruhi konsumen juga harus mendapat dukungan dari pemerintah.

Keunggulan yang dimiliki bangsa kita adalah bahwa budaya masyarakat Indonesia paternalistik. Dengan ciri mengikuti apa yang dilakukan pemimpin. Dengan budaya ini, mudah bagi bangsa kita membangun industri hilir dan mendekatkan produk kakao dengan konsumen karena apa yang dikonsumsi pemimpin akan diikuti masyarakat.

Swasta jelas cerdas. Namun, untuk membangun pasar perlu dorongan dari BUMN agar lebih cepat sebagai agen perubahan. Semuanya kembali kepada pemerintah, apakah tetap akan menjadikan sektor pertanian sebagai sektor pendukung atau menjadi sektor unggulan yang memberi nilai tambah menciptakan kesejahteraan masyarakat.

Bagaimanapun, untuk membangun industri kakao ke depan harus ada upaya perbaiki kualitas kakao. Karena itu, perlu peningkatan teknologi budidaya, selain melakukan penggantian tanaman yang rusak.

Itu saja tidak cukup. Untuk membangun industri kakao, perlu kemauan kuat dari pemerintah guna mendorong tumbuhnya industri hilir kakao. Sambil industri hilir ditumbuhkan, juga perlu dilakukan penataan manajemen distribusi produk kakao supaya lebih dekat kepada konsumen.

Tak lupa pula berbagai kebijakan bea masuk terhadap produk olahan berbahan baku kakao juga bisa diterapkan untuk percepatan industrialisasi kakao.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau