Naik Andong Mega Borong Batik di Yogya

Kompas.com - 23/06/2009, 22:20 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Calon presiden Megawati Soekarnoputri memborong batik milik salah seorang pengusaha batik terkenal H Hamzah di kawasan Malioboro, Yogyakarta, Selasa (23/6). Megawati terlihat asyik memilih dengan teliti berbagai corak batik yang diminatinya di Toko Mirota Batik milk H Hamzah ini.

Beberapa baju batik, termasuk beberapa helai kain batik yang disukainya kemudian dibeli. Megawati, saat membeli batik, ditemani oleh putrinya, Puan Maharani; mantan Memperindag, Rini Sumarno; dan beberapa petinggi PDI Perjuangan yang lain.

Megawati rupanya tak ingin menyia-nyiakan waktunya, singgah di kota kelahirannya ini. Sebelum memborong batik, dengan wajah sumringah, sambil melambai-lambaikan tangan, Mega terlihat menyalami warga Yogyakarta yang kebetulan melihat dirinya naik andong.

Beberapa warga Yogya lain mengikuti andong yang ditumpangi Megawati hingga berhenti di depan toko Mirota Batik yang letaknya berada di seberang Pasar Bringharjo. Rupanya, batik khas H Hamzah ini sudah menjadi langganan Megawati.

Dalam setiap kesempatan, kata salah seorang penjaga toko batik milik H Hamzah, Mega suka menyempatkan waktu membeli batik kesukaannya. "Saya juga melihat, sekarang ini anak muda mulai trendi memakai batik. Model-modelnya lucu, praktis," kata Megawati saat dimintai tanggapannya.

Mega sempat mengungkapkan kecemasannya atas makin berkurangnya perajin batik saat ini. "Regenerasi perajin batik kelihatannya berkurang, tidak sesuai kehendak para pengusaha batik. Ini yang harus diperbaiki," harapnya.

Sebelumnya, Megawati melakukan kampanye di depan ribuan pendukungnya  yang berkumpul di Gedung Olahraga (GOR) Tribakti, Magelang. Dalam orasinya, tanpa terlihat lelah, Megawati kembali mengingatkan kepada para pendukungnya untuk tidak salah memilih.

"Jangan memilih pemimpin seperti memilih kucing dalam karung. Waktu lima menit untuk menentukan nasib bangsa selama lima tahun," ujar Megawati.

Sebelum berkampanye di Kota Megelang, Mega bersama rombongan sempat singgah di warung makan dengan ornamen khas Yogya bernama 'Pecel Organik' untuk bersantap siang. Makanan yang disajikan, menurut Mita, salah seorang putri pemilik warung Pecel Organik, bahan pecel yang disajikan, saat ditanam, tidak menggunakan pestisida.

Hampir setiap perjalanannya, termasuk perjalanan dalam rangka berkampanye, menyusuri wilayah selatan pulau Jawa sejak Sabtu (20/6), Mega selalu melepas lelah sambil makan siang sekaligus menunaikan shalat Zuhur maupun shalat Ashar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau