KOMPAS.com — Selama tujuh bulan berada dalam penyanderaan kelompok Taliban, wartawan Afganistan, Tahir Ludin (35), menuturkan bahwa mereka seperti di ambang kematian. Hampir setiap hari, mereka diancam akan dibunuh.
Ludin diculik bersama seorang wartawan The New York Times, David Rohde, dan sopir mereka pada 10 November 2008 di luar Kabul, ibu kota Afganistan. Mereka dalam perjalanan untuk mewawancarai seorang pemimpin Taliban saat dicegat sekelompok orang bersenjata dan diculik.
Keduanya berhasil melarikan diri, Jumat pekan lalu, dengan memanjat tembok di tempat mereka disekap di Waziristan Utara di wilayah Pakistan. Rohde telah kembali ke AS, sementara Ludin kembali ke Kabul.
”Sekitar 100 meter setelah kota Baraki Rajan sebuah kendaraan berhenti. Di dalamnya ada orang-orang bersenjata. Mereka menodong kami,” tutur Ludin, Senin (22/6), mengawali kisahnya kepada Associated Press.
Dia mengatakan, para penculik itu adalah orang-orang yang sama yang dihubunginya untuk wawancara pemimpin Taliban, Abu Tuyeb. ”Mereka memukul saya dengan popor Kalashnikov,” kata Ludin. Rohde tidak dipukuli oleh penculiknya.
Kepada para penculiknya, Ludin mencoba mengatakan untuk menghubungi Abu Tuyep atau para juru bicara Taliban. ”Mereka mengatakan tidak kenal Abu Tuyep, tidak kenal Qari Yusuf, tidak kenal Zabiullah,” ujarnya.
Kadang-kadang, para penculiknya menuduh Ludin dan Rohde sebagai mata-mata. Lain waktu, penculik mengancam akan membunuh mereka jika tidak menyediakan uang tebusan dalam jumlah besar. ”Kadang-kadang mereka memperlihatkan kepada kami cara mereka akan membunuh kami, misalnya dengan rekaman video pemenggalan kepala,” katanya.
Awalnya, kata Ludin, para penculik menuntut 30 juta dollar AS. Kemudian, mereka menginginkan pertukaran dengan anggota Taliban yang ditahan Pemerintah Afganistan. Tuntutan itu bisa berubah setiap saat.
Rohde dan Ludin telah merencanakan pelarian mereka selama beberapa pekan. Mereka bisa mendapat sebuah tali dan membuat penjaga mereka terjaga hingga larut malam sehingga tertidur dan tidak mendengar saat mereka keluar lewat jendela.
Keduanya juga menanti malam tiba ketika listrik dinyalakan sehingga suara pendingin ruangan yang berisik bisa menutupi suara apa pun yang mereka buat. Menggunakan tali, Rohde dan Ludin memanjat tembok dan berhasil keluar.
Sopir mereka ditinggal karena memutuskan untuk bergabung dengan Taliban.
Ludin tampak sehat meskipun mengalami luka di kaki. Dia juga masih sedikit bingung dengan orang-orang dan suasana sekitarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang