JAKATA, KOMPAS.com — Harga minyak dunia berbalik melambung (rebound) pada Selasa (23/6) waktu setempat, didukung oleh melemahnya dollar AS dan meningkatnya krisis politik di Iran.
Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Agustus naik 1,74 dollar AS dari harga penutupan pada Senin menjadi berakhir pada 69,24 dollar AS per barrel sebagai suatu kontrak yang membuat debut pada Selasa.
Minyak mentah Brent North Sea London untuk penyerahan Agustus meningkat 1,82 dollar AS menjadi ditutup pada 68,80 dollar AS.
Harga minyak telah menurun setelah menembus skala 73 dollar AS dalam beberapa hari lalu karena keprihatinan atas krisis ekonomi memudarkan kekhawatiran terhadap pasokan di tengah ketegangan politik di Iran dan serangan pada instalasi minyak di Nigeria.
"Kami melihat sedikit pembalikan dari beberapa hari terakhir," kata Bart Melek dari BMO Capital Markets, menjelaskan hal itu sebagai sedikit jeda pada koreksi kami.
"Pelemahan dollar AS juga membantu harga bergerak naik," tuturnya.
Sebuah pelemahan pada greenback membuat minyak yang dihargakan dalam dollar lebih murah bagi pembeli yang memegang mata uang kuat, yang cenderung untuk meningkatkan permintaan dan mendorong harga naik.
Euro naik terhadap dollar AS pada Selasa, menembus 1,40 dollar AS di tengah dukungan data ekonomi zona euro karena para investor memandang ke depan terhadap pertemuan kebijakan moneter dua hari Federal Reserve AS yang dimulai pada Selasa.
Harga minyak pada awal Selasa berada di bawah 67 dollar AS, sejalan dengan kejatuhan pasar saham dan kekhawatiran atas pemulihan ekonomi global.
Para pedagang juga berusaha untuk mengunci keuntungan dari rally baru-baru ini. "Ada beberapa hal yang mungkin menjadikan aksi jual berlebihan," kata Phil Flynn dari Alaron Trading.
Krisis politik di Iran juga menekan pasar. Iran pada Selasa mengesampingkan penggulingan sengketa pemilihan presiden karena Presiden AS Barack Obama mengatakan, ada pertanyaan penting tentang legitimasi pemungutan suara dan mengutuk tindakan keras terhadap pemrotes pascapemilu.
Namun, pemimpin tertinggi Ayatollah Khamenei menyetujui permintaan oleh komisi pemilihan umum untuk memperpanjang lima hari dari tenggat waktu Rabu untuk memeriksa hasil suara yang dikeluhkan, kata kantor berita Iran, ISNA.
Kekhawatiran internasional tentang krisis yang memuncak, tantangan paling serius terhadap rezim Islam dalam 30 tahun sejarah, Inggris mengatakan, pihaknya mengusir dua diplomat Iran setelah langkah serupa dilakukan Teheran.
Pada saat yang sama, negara-negara Eropa lainnya menarik utusan mereka untuk memprotes pemilu dan tindakan kekerasan terhadap para pemrotes. "Minyak masih tak bergerak karena para produsen menunggu apa pun untuk mengisi kekosongan dalam produksi minyak yang mungkin terjadi dalam peristiwa pengurangan pasokan," kata Flynn.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang