Pengacara Yakin Polisi Tak Akan Temukan Bukti Keterlibatan Antasari

Kompas.com - 24/06/2009, 16:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengacara Antasari Azhar yakin polisi kesulitan menemukan bukti yang menunjukkan bahwa Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi itu merupakan otak pembunuhan Direktur Utama PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen.

"Sampai saat ini belum ditemukan (bukti) dan kami yakin tidak akan ditemukan bukti yang mengaitkan Pak Antasari sebagai otak pembunuhan karena kita tahu seseorang ditahan paling tidak ada bukti awal yang cukup kuat. Nah, sampai saat ini kan kita tidak pernah diberitahu apa bukti itu," ujar Pengacara Antasari, Ari Yusuf Amir, kepada wartawan seusai menjenguk kliennya bersama anggota tim lain di Rutan Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (24/6).

Kesulitan penyidik memperoleh bukti ini, menurut dia, diindikasikan oleh beberapa hal. Pertama, adanya perpanjangan masa penahanan. Kedua, sampai sekarang berkas belum juga dilimpahkan ke Kejaksaan. "Itu kan merupakan petunjuk-petunjuk," tuturnya.

Malah, kata dia, saat ini penjelasan dari kepolisian melebar dari pokok masalah. Menurut dia, pelebaran kasus itu tidak berkaitan dengan kasus pembunuhan yang dituduhkan ke kliennya. Dia mencontohkan tentang penyadapan dan pertemuannya dengan Rani Yuliani di Hotel Grand Mahakam.

"Bagaimana relevansinya dengan pembunuhan? Tentang penyadapan itu misalnya. Tegas Pak Antasari menyatakan tidak ada perintah penyadapan. Kalau misal katakanlah penyadapan itu terjadi, menghubungkannya dengan kasus pembunuhan itu bagaimana? Tolong jelaskan ke media, tolong jelaskan ke publik supaya masyarakat tidak bingung. Selama ini kan hanya asumsi-asumsi saja," kata Ari.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau