Harga Gabah Naik, Panen Turun

Kompas.com - 24/06/2009, 19:06 WIB

CILACAP, KOMPAS.com — Petani padi di sebagian wilayah Cilacap telah memasuki masa panen. Meskipun dapat menikmati harga gabah lebih tinggi dibanding musim panen pertama, panenan padi pada musim panen kali ini tak sebaik panen pertama.

Kuantitas panenan umumnya turun antara 20-30 persen dibanding panen pertama. Para petani memperkirakan hal tersebut terjadi karena cuaca yang tidak menentu selama masa tanam kedua 2009 ini.

Lahan padi yang memasuki masa panen umumnya di wilayah Cilacap bagian timur seperti Kecamatan Binangun, Nusawungu, Kroya, dan Adipala. Mereka dapat memanen padi lebih dini karena mampu menanam padi lebih awal dibanding daerah-daerah lain di eks-karesidenan Banyumas.

Wilayah Cilacap bagian timur merupakan lumbung padi utama Kabupaten Cilacap. Selain tanahnya subur dan datar, wilayah tersebut sebagian besar memiliki irigasi teknis yang bersumber dari aliran Sungai Serayu. Dalam setahun, mereka mampu menanam tiga kali.

Ahmad Subandi (36), petani di Desa Wangkal, Kecamatan Nusawungu, mengatakan, pada panen kedua tahun ini mendapatkan 6 ton gabah dari lahannya seluas 600 ubin atau satu hektar lebih sedikit. Jumlah tersebut jauh menurun dibanding hasil panen pertama bulan Maret lalu yang mencapai 8,3 ton.

Panen kedua biasanya memang turun, tetapi tahun-tahun sebelumnya tak sebanyak sekarang. Dulu biasanya kalau turun paling cuma lima kuintal sampai satu ton, tapi tahun ini sampai 2,3 ton, kata Ahmad.

Dia menduga, penurunan yang tajam ini disebabkan cuaca yang kerap berubah-ubah mulai Maret sampai Juni ini. Terkadang, hujan turun sangat deras disertai angin kencang, tetapi terkadang panas menyengat. Akibatnya, banyak batang padi yang tak menumbukan bulir padi secara sempurna.

"Penyebab pastinya saya tidak tahu, tetapi petani di sini sekarang begitu semua, hasil panenan turun," ungkap dia.

Martono (45), petani di Desa Bangkal, Kecamatan Binangun, mengatakan, lahannya seluas 250 ubin atau sekitar 3.500 meter persegi, hanya menghasilkan padi 1,6 ton kali ini. Padahal, pada musim panen pertama dia mendapatkan 2,4 ton. "Masanya memang sulit sekarang. Bisa panen sudah syukur," cetus dia.

Untung bagi petani di wilayah Cilacap itu, mereka dapat menikmati harga gabah lebih tinggi dibanding musim panen pertama. Untuk gabah kering panen rata-rata berkisar antara Rp 2.400 dan Rp 2.600 per kilogram, sedangkan kering giling rata-rata di atas Rp 3.000 per kg. Harga tersebut lebih tinggi dibanding harga gabah pada musim panen pertama yang rata-rata di bawah Rp 2.400 per kg untuk kering panen.

Jasman (40), petani di Desa Pasuruhan, Kecamatan Binangun, mengatakan, meskipun hasilnya tidak banyak, panen kali ini menggembirakan karena sesuai jadwal. "Alhamdulillah, kami dapat memanen lebih awal karena dapat menanam lebih awal sehingga dapat harga gabah yang lebih baik," tandas dia.

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau