Minyak Masih di Kisaran 68 Dollar AS

Kompas.com - 25/06/2009, 07:55 WIB

NEW YORK, KOMPAS.com - Harga minyak turun pada Rabu (24/6) waktu setempat, karena dollar AS menguat dan Amerika Serikat melaporkan data persediaan energi yang "mixed" (beragam).

Kontrak berjangka utama New York, minyak mentah light sweet untuk pengiriman Agustus, merosot 57 sen dari penutupan Selasa menjadi berakhir pada 68,67 dollar AS per barrel.  Adapun harga minyak mentah jenis Brent di London untuk pengiriman Agustus turun 47 sen menjadi 68,33 dollar AS per barrel. 

Pedagang mengatakan harga  didikte oleh dollar, yang naik setelah badan pembuat kebijakan Federal Reserve AS menyimpulkan pertemuan dua harinya dengan kesepakatan untuk mempertahankan suku bunga hampir nol, untuk menstimulus ekonomi terbesar di dunia  dari resesi berkepanjangan.

Sekitar 1830 GMT, euro jatuh pada 1,3938 dollar dari 1,4078 dollar pada akhir perdagangan New York pada Selasa.  Sebuah penguatan  mata uang AS membuat harga minyak dalam dollar lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. 

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) juga mengatakan bahwa "kondisi ekonomi yang cenderung sangat rendah menjamin tingkat suku bunga  federal fund untuk diperpanjang periodenya."  Para analis mengatakan, Fed telah mempertahankan langkah agresifnya untuk menstimulus ekonominya yang terikat resesi meskipun berkembang gagasan "green shoots" (pucuk hijau). 

Pasar juga mencerna data dari Departemen Energi AS pada Rabu yang menunjukkan stok minyak mentah menurun 3,8 juta barrel pada minggu yang berakhir 19 Juni, lebih tajam dari 1,3 juta barrel yang diharapkan oleh sebagian besar analis.

Namun, persediaan dari bensin melonjak 3,9 juta barrel dibandingkan dengan ekspektasi naik satu juta barrel.  "Hampir setiap angka-angka membatalkan angka yang keluar lainnya," kata analis Sucden Robert Montefusco, yang  menunjuk fakta bahwa dalam hal nominal jatuhnya persediaan minyak mentah hampir bersesuaian dengan kenaikan stok bensin. 

John Kiduff dari MF Global mengatakan bahwa pasar tetap mengkhawatirkan permintaan.  "Kenaikan terlalu besar persediaan bensin jelang penggunaan tinggi dari musim mengemudi jelas menekan pasar," ujarnya. 

Pasar juga tetap dicengkram oleh kekerasan pasca pemilu di produsen minyak mentah utama Iran.  Polisi anti huru hara memblokir kumpulan pemerotes di Teheran pada Rabu, saksi mengatakan, karena pemimpin tertinggi Iran memperingatkan dia tidak akan mundur dalam menghadapi kerusuhan setelah sengketa pemilu presiden. 

"Dalam beberapa kejadian tentang pemilu, saya telah tegas tentang pelaksanaan undang-undang dan saya akan (meminta dengan tegas). Baik sistem, maupun orang-orang yang akan kembali turun di bawah kekuatan," kata Ayatollah Ali Khamenei. 

Itu adalah indikasi terbaru bahwa rezim klerikal tidak akan membiarkan ketidaksepakatan atas terpilihnya kembali Presiden Mahmoud Ahmadinejad walaupun gelombang demonstrasi dan keluhan masyarakat bahwa pemilu 12 Juni curang. 

Diindikasikan aparat keamanan tidak membuang-buang waktu untuk memadamkan protes, dengan menghadirkan banyak polisi anti huru hara dan militan Islam untuk menghentikan ratus orang yang mencoba untuk berkumpul di luar gedung parlemen Iran, menurut saksi.

Para analis khawatir bahwa memburuknya krisis dapat menyebabkan pemerintah Iran untuk mengurangi pasokan minyak atau memblokir Selat Hormuz - jalan yang vital untuk tanker minyak. 

Harga minyak mentah berjangka jatuh dari poin rekor tertinggi lebih dari 147 dollar AS pada Juli 2008 menjadi sekitar 32 dollar pada Desember karena kecenderungan turun ekonomi menggerus permintaan energi tetapi pasar telah kembali naik di tengah harapan pemulihan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau