Perang Nuklir Mengancam Semenanjung Korea

Kompas.com - 25/06/2009, 14:24 WIB

SEOUL, KOMPAS.com — Korea Utara (Korut) memperingatkan bahwa "awan gelap perang nuklir" berkumpul di semenanjung Korea.

Mereka pun berikrar akan memperkuat persediaan senjata atomnya saat negara itu memperingati ulang tahun konflik tahun 1953-1955.

Rodong Sinmun, surat kabar partai komunis yang berkuasa, menuduh Amerika Serikat dan Korea Selatan (Korsel) memprovokasi perang baru dengan membantu "payung" nuklir AS kepada Korsel. "Satu situasi yang menyangsikan terwujud di semenanjung Korea... dengan awan gelap perang nuklir terus berkumpul," kata surat kabar itu dalam satu ulasan panjang memperingati ulang tahun perang Korea itu.

Surat kabar itu mengatakan, satu perang baru bisa meletus setiap saat dan Korut akan terus memperkuat persediaan senjata nuklirnya. "Selama kebijakan bermusuhan AS terus dilakukan, kami tidak akan menghentikan pencegahan nuklir kami dan bahkan memperkuatnya," kata Rodong.

Konflik itu dimulai dengan satu invasi Korut 25 Juni 1950. Perang itu berakhir melalui satu gencatan senjata bukan satu perjanjian perdamaian, yang menyebabkan Korut yang komunis dan Korsel yang kapitalis secara teknis masih dalam perang. Hubungan lintas perbatasan memburuk sejak pemerintah Presiden Lee Myung-bak yang konservatif berkuasa tahun lalu. Lee menerapkan kebijakan yang lebih keras terhadap Korut.

Ketegangan internasional makin meningkat sejak peluncuran roket jarak jauh Korut awal April dan uji coba nuklirnya akhir Mei. Korut juga menembakkan rudal-rudal jarak pendek, mencabut gencatan senjata di semenanjung, dan berulang-ulang memperingatkan kemungkinan perang.

Dalam KTT AS-Korsel di Washington  pekan lalu, AS menegaskan komitmennya untuk membantu Korsel dengan satu payung nuklir. Para pejabat yakin Korut akan menembakkan rudal-rudal jarak pendek atau jarak menengah  di lepas pantai timurnya dalam dua pekan ke depan, setelah memperingatkan kapal-kapal asing untuk menjauh.

AS juga mengatakan, pihaknya siap menghadapi kemungkinan Korut menembakkan satu rudal jarak jauh ke arah Hawaii, mungkin pada atau sekitar 4 Juli bertepatan Hari Kemerdekaan AS.

Korut mengecam keras keputusan Dewan Keamanan PBB, 12 Juni untuk memberlakukan sanksi-sanksi baru, yang termasuk memperketat larangan pengiriman senjata. Korut berikrar pada 13 Juni untuk membuat lagi bom-bom nuklir dari bahan plutonium dan memulai program senjata-senjata atom yang berasal dari uranium yang diperkaya.

Sebagai bagian dari usaha-usaha untuk mengekang program-program senjata Korut, sebuah kapal perusak AS mengawasi sebuah kapal kargo yang diperkirakan milik Korut yang tampaknya akan menuju Myanmar. Departemen Pertahanan AS mengatakan, kapal Kang Nam I masih dipantau tetapi menolak mengatakan di mana kapal itu berada, atau apakah Angkatan Laut AS akan memeriksanya.

Dalam konflik tahun 1950-1953, AS memimpin pasukan PBB yang berperang membantu Korsel melawan Korut dan pasukan China. Satu pameran diselenggarakan di kota perbatasan Kaesong memamerkan ratusan artifak bersejarah dan kebudayaan yang dihancurkan pasukan AS dalam perang itu, kata Radio Pyongyang, Kamis.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau