Benteng Ancol: Sejarah yang Belum Tersingkap

Kompas.com - 26/06/2009, 11:59 WIB

KOMPAS.com — Liburan ke kawasan utara Jakarta rasanya tak tuntas jika tak mem-bezoek sisa-sisa bangunan bekas benteng di seputaran Ancol. Bangunan yang masih tersisa itu berada tak terlalu jauh dari Pantai Karnaval, Taman Impian Jaya Ancol. Lokasi tepatnya ada di kawasan Sentra Komunitas Ancol Timur, di hadapan rumah-rumah mewah di Jalan Pasir Putih II.

Tak jauh dari pintu masuk ke Sentra Komunitas Ancol Timur di sisi kanan, terlihat hamparan pepohonan layaknya sebuah taman. Perhatikan pepohonan dan belukar yang tumbuh subur di sana, dari balik belukar dan pepohonan itu akan muncul dinding-dinding tua yang terpisah-pisah. Itulah sisa bangunan yang dulu merupakan benteng.
 
Di pagi hingga siang hari, beberapa sisa bangunan itu tertutup pedagang makanan. Adapun sisa bangunan yang masih tampak bentuknya, di hadapan pintu masuk ke sebuh kantin ini, sering kali tertutup deretan truk atau mobil yang parkir.

Beda sekali dengan kondisi Ereveld Ancol atau warga biasa menyebut kuburan Belanda. Ereveld Ancol ditangani langsung oleh sebuah yayasan, Netherlands War Graves Foundation (Oorlogsgravenstichting). Kondisi kuburan Belanda ini begitu tertata rapi bahkan menjadi semacam taman yang menambah nilai kawasan Ancol.  

Kembali ke benteng, belum ditemukan data tertulis tentang kapan benteng Ancol ini dibangun. Data dari Dinas Museum dan Sejarah DKI  (kini menjadi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan) tahun 1996 menuliskan, seusai perang dunia ke-II, Pemerintah Belanda meningkatkan pertahanannya di Batavia dengan membangun tiga benteng sekaligus di wilayah Jakarta Utara, yaitu benteng Ancol, di Palm Beach (Kalibaru), dan benteng Gadang di kawasan Sungai Bambu.

Pada hasil penelitian yang terangkum dalam Sejarah Teluk Jakarta hanya disebutkan, sesuai keterangan lisan dari pelaku sejarah, Wadjat, yang ikut membangun benteng (benteng Ancol didirikan sekitar tahun 1920-an untuk menghadapi serangan Jepang). Namun, hasil penelitian ini sangat meragukan. Jepang pada masa itu belum menjadi ancaman untuk Batavia.
          
Benteng yang masuk dalam kawasan wisata Taman Impian Jaya Ancol ini seperti menyendiri dalam diam, menyimpan sekian ratus halaman sejarah yang belum terungkap. Kumpulan sisa bangunan benteng hanya ada di sebelah utara, barat, dan timur. Di sisi utara dan barat, sisa bangunan benteng masih terlihat sebagai bastion. Di sisi utara masih lengkap dengan tangga. Tebal dinding bastion sekitar tiga meter sedangkan tebal dinding benteng bervariasi, ada yang 135 cm, ada pula yang 310 cm.

Ketebalan dinding bastion di sisi barat tak lebih dari tiga meter. Pada sisi timur  masih terlihat bangunan bekas depot amunisi yang terdiri atas tiga ruangan, yaitu tengah, depan, belakang, dan masing-masing berjendela.

Kondisi sisa benteng ini seperti kondisi bekas benteng lain, yang masih tersisa, sebut saja tembok benteng atau tembok kota Batavia di sisi timur—di Jalan Tongkol, Jakarta Utara—yang sewaktu-waktu bisa lenyap. Memang, benteng ini tak dilenyapkan demi menambah wahana di Ancol, namun sungguh disayangkan sisa benteng itu dibiarkan begitu saja. Di antara jendela yang kini mulai tertimbun tanah, terlihat kumpulan air yang terjebak di sana tak bisa keluar ditambah sampah menumpuk dan jemuran para sopir truk.

Padahal sisa benteng itu jika dibenahi, digali sejarahnya, bisa menjadi wahana  tambahan bagi Taman Impian Jaya Ancol khususnya, dan menjadi salah satu atraksi tambahan yang bisa dibanggakan bagi kawasan Jakarta Utara secara umum. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau