Prabowo: Kekayaan Bangsa Direnggut Asing

Kompas.com - 26/06/2009, 20:28 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com — Calon wakil presiden Prabowo Subianto menyatakan, kekayaan bangsa selama ini telah tergerus oleh bangsa asing dan tidak pernah kembali ke rakyat. Hal ini akan berlanjut jika pemimpin yang akan meneruskan pemerintahan tidak memiliki kehendak politik yang berpihak kepada rakyat.

"Kenapa tidak bisa kita kelola dan jaga sendiri kekayaan tersebut. Padahal, yang terpenting kan adalah kemauan politik (political will) dari pemimpinnya," ujar Prabowo, saat sedang berkunjung ke kantor redaksi harian Suara Merdeka di Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (26/6).

Menurut Prabowo, Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah, tetapi hasilnya tidak pernah dirasakan oleh rakyatnya. Hal ini ironis mengingat bahan baku diekspor ke luar negeri untuk diolah, kemudian hasilnya baru bisa dinikmati oleh warga negara Indonesia dengan harga mahal.

"Kekayaan kita sangat luar biasa melimpah, tetapi hilangnya juga luar biasa," ucap Prabowo. Untuk itu, Prabowo mengaku tidak akan berhenti menyadarkan warga Indonesia mengenai bahayanya ekonomi liberal yang dapat membuat rakyat semakin miskin.

Selama ini pemerintah dinilai hanya berpihak pada pemodal besar, tetapi tidak tergugah untuk melindungi yang miskin. Akibatnya, banyak pedagang tradisional yang tergusur, nelayan semakin sulit mencari ikan, dan banyak perajin yang kolaps karena kesulitan mencari bahan baku. "Rakyat tinggal memilih, mau melanjutkan sistem yang keliru atau perubahan," kata Prabowo.

Selain mengingatkan mengenai kekayaan yang bocor, Prabowo juga menekankan mengenai pentingnya perhatian terhadap masalah ketenagakerjaan, terutama penghapusan buruh outsourcing.

"Namun, bukan hanya satu arah saja. Pengusaha juga tidak akan diberikan aturan yang menghambat agar dapat terus menyediakan lapangan pekerjaan," ucapnya.

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau