Suramadu Dibuka, Ratusan Karyawan Terpaksa Di-PHK

Kompas.com - 26/06/2009, 22:17 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com — Sejumlah operator kapal feri di penyeberangan Ujung-Kamal terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja dan merumahkan ratusan karyawan mereka. Langkah ini terpaksa dilakukan karena kapal mereka tak beroperasi sejak Senin (15/6) lalu atau dua hari setelah Tol Jembatan Suramadu dibuka.

Sejak Tol Jembatan Suramadu beroperasi, praktis dua operator feri, yaitu PT Pewete Bahtera Kencana dan PT Sindu Utama Bahari terpaksa menghentikan aktivitas mereka. Akibatnya, PT Pewete Bahtera Kencana harus melakukan PHK terhadap 23 karyawan dan merumahkan 57 karyawan. Demikian juga PT Sindu Utama Bahari yang telah merumahkan 50 karyawan mereka.

"Jika situasi ini berlanjut sampai akhir bulan, kami terpaksa melakukan PHK lagi. Mustahil kami mempekerjakan seluruh karyawan jika kapal kami tak beroperasi," kata Direktur PT Pewete Bahtera Kencana Etty SA, Jumat (26/6) di Surabaya.

Sama seperti PT Pewete Bahtera Kencana, PT Sindu Utama Bahari juga merumahkan 50 karyawan mereka. Direktur PT Sindu Utama Bahari Tjipto Susilo mengungkapkan, meski feri tak beroperasi, pihaknya tetap memberikan gaji kepada 50 karyawan mereka.

Harapan tetap bertahan

Tjipto tetap bersikeras mempertahankan kapal feri satu-satunya milik PT Sindu Utama Bahari, yaitu Niaga Ferry II. Pasalnya, spesifikasi kapal ini didesain untuk penyeberangan perairan tenang sehingga tak mungkin dipindahkan ke rute penyeberangan lain.

PT Pewete Bahtera Kencana juga akan mempertahankan satu dari dua kapal feri yang ada di Ujung-Kamal. Rencananya, satu kapal feri akan dipindahkan ke rute penyeberangan Batam-Bintan.

"Dengan perhitungan ideal hanya enam unit feri yang dapat bertahan di Ujung-Kamal, kami berharap enam kapal dari masing-masing operator tetap diberi tempat. Dengan demikian adil karena masing-masing operator memiliki porsi yang sama," tuturnya.

Menanggapi hal ini Pemimpin PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Surabaya Prasetyo B Utomo mengatakan, formasi ideal kapal yang beroperasi di Ujung-Kamal baru akan dibahas, Sabtu (27/6). Setelah ditetapkan beberapa kapal yang dipertahankan, maka daftar kapal feri lainnya akan dilaporkan ke Gubernur Jatim untuk selanjutnya ditempatkan di rute penyeberangan lain.

"Meski idealnya tinggal enam feri yang beroperasi, namun tetap akan disediakan kapal cadangan, sekitar empat unit. Ini untuk mengantisipasi jika arus transportasi di Suramadu macet dan arus lalu-lintas membeludak ke Ujung-Kamal," ucapnya.

PT Pewete Bahtera Kencana dan PT Sindu Utama Bahari merupakan dua operator terkecil dari enam operator yang beroperasi di penyeberangan Ujung-Kamal. Kedua operator ini pula yang beroperasi di dermaga dua yang kebetulan saat ini ditutup karena arus penumpang yang kian sepi.

PT Pewete Bahtera Kencana mengoperasikan dua kapal feri, yaitu Kapal Motor Penumpang (KMP) Banyumas dan KMP Aengmas, sedangkan PT Sindu Utama Bahari mengoperasikan satu unit kapal, yaitu KMP Niaga Ferry II.  

Selain armada milik dua perusahaan ini, terdapat beberapa operator lain di penyeberangan Ujung-Kamal, yaitu PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) (2), PT Dharma Lautan Utama (5), PT Jembatan Madura (6), PT Prima Eksekutif (1).

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau