SURABAYA, KOMPAS.com — Sejumlah operator kapal feri di penyeberangan Ujung-Kamal terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja dan merumahkan ratusan karyawan mereka. Langkah ini terpaksa dilakukan karena kapal mereka tak beroperasi sejak Senin (15/6) lalu atau dua hari setelah Tol Jembatan Suramadu dibuka.
Sejak Tol Jembatan Suramadu beroperasi, praktis dua operator feri, yaitu PT Pewete Bahtera Kencana dan PT Sindu Utama Bahari terpaksa menghentikan aktivitas mereka. Akibatnya, PT Pewete Bahtera Kencana harus melakukan PHK terhadap 23 karyawan dan merumahkan 57 karyawan. Demikian juga PT Sindu Utama Bahari yang telah merumahkan 50 karyawan mereka.
"Jika situasi ini berlanjut sampai akhir bulan, kami terpaksa melakukan PHK lagi. Mustahil kami mempekerjakan seluruh karyawan jika kapal kami tak beroperasi," kata Direktur PT Pewete Bahtera Kencana Etty SA, Jumat (26/6) di Surabaya.
Sama seperti PT Pewete Bahtera Kencana, PT Sindu Utama Bahari juga merumahkan 50 karyawan mereka. Direktur PT Sindu Utama Bahari Tjipto Susilo mengungkapkan, meski feri tak beroperasi, pihaknya tetap memberikan gaji kepada 50 karyawan mereka.
Harapan tetap bertahan
Tjipto tetap bersikeras mempertahankan kapal feri satu-satunya milik PT Sindu Utama Bahari, yaitu Niaga Ferry II. Pasalnya, spesifikasi kapal ini didesain untuk penyeberangan perairan tenang sehingga tak mungkin dipindahkan ke rute penyeberangan lain.
PT Pewete Bahtera Kencana juga akan mempertahankan satu dari dua kapal feri yang ada di Ujung-Kamal. Rencananya, satu kapal feri akan dipindahkan ke rute penyeberangan Batam-Bintan.
"Dengan perhitungan ideal hanya enam unit feri yang dapat bertahan di Ujung-Kamal, kami berharap enam kapal dari masing-masing operator tetap diberi tempat. Dengan demikian adil karena masing-masing operator memiliki porsi yang sama," tuturnya.
Menanggapi hal ini Pemimpin PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Surabaya Prasetyo B Utomo mengatakan, formasi ideal kapal yang beroperasi di Ujung-Kamal baru akan dibahas, Sabtu (27/6). Setelah ditetapkan beberapa kapal yang dipertahankan, maka daftar kapal feri lainnya akan dilaporkan ke Gubernur Jatim untuk selanjutnya ditempatkan di rute penyeberangan lain.
"Meski idealnya tinggal enam feri yang beroperasi, namun tetap akan disediakan kapal cadangan, sekitar empat unit. Ini untuk mengantisipasi jika arus transportasi di Suramadu macet dan arus lalu-lintas membeludak ke Ujung-Kamal," ucapnya.
PT Pewete Bahtera Kencana dan PT Sindu Utama Bahari merupakan dua operator terkecil dari enam operator yang beroperasi di penyeberangan Ujung-Kamal. Kedua operator ini pula yang beroperasi di dermaga dua yang kebetulan saat ini ditutup karena arus penumpang yang kian sepi.
PT Pewete Bahtera Kencana mengoperasikan dua kapal feri, yaitu Kapal Motor Penumpang (KMP) Banyumas dan KMP Aengmas, sedangkan PT Sindu Utama Bahari mengoperasikan satu unit kapal, yaitu KMP Niaga Ferry II.
Selain armada milik dua perusahaan ini, terdapat beberapa operator lain di penyeberangan Ujung-Kamal, yaitu PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) (2), PT Dharma Lautan Utama (5), PT Jembatan Madura (6), PT Prima Eksekutif (1).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang