Kesasar Masuk Kuburan....

Kompas.com - 27/06/2009, 15:32 WIB

TRIBUN Kaltim bersama Komunitas Athena, belum lama ini diundang Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo di Jalan Balikpapan-Handil Km 44 Samboja Kutai Kartanegara. Selain menanam pohon, mereka juga diajak melihat beruang madu, orangutan, gudang buah, dan keindahan alam di sekitar Samboja Lestari. Berikut laporan wartawan Tribun Kaltim, Achmad Subechi.

SAYA masih tertidur di kursi kantor. Samar-samar terdengar bunyi organ. Ketika terbangun, di depan saya ada Niko Ruru (wartawan Tribun Kaltim). Kedua tangannya sibuk memencet-mencet tuts organ yang ada di ruangan kerja saya. "Pak... bangun... sudah pukul 06.30. Kan pagi ini jam 08.00 kita akan berangkat ke BOS (The Borneo Orangutan Survival Foundation)," kata Niko. Seusai mandi, saya dikagetkan kehadiran Kapten Arm Answari Jadi, Kasi Penum Pendam Kodam VI Tanjungpura. "Apa kita jadi berangkat ke BOS?" tanyanya.

"Siappp... nih masih nunggu teman-teman," kata saya. Beberapa pekan sebelumnya, Ishak Yassir, seorang penggiat pada Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo, datang ke kantor saya. Pria yang sedang melanjutkan program doktoral di Universitas Wageningen, Belanda, itu meminta saya agar datang ke BOS di Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara. "Jangan kerja terus di kantor. Sekali-kali Pak Bechi menginaplah di sana. Tempatnya sepi dan enak untuk mencari inspirasi. Selain itu, kita nanti bisa masak-memasak. Teman-teman BOS jago-jago lho kalau soal masak-memasak," tuturnya. Dalam hati saya, "Wah cocok nih, sehobi...."

Apalagi, selama ini saya bersama teman-teman Tribun Kaltim membentuk sebuah komunitas masak-memasak yang diberi nama Komunitas Athena. Biasanya, setiap akhir pekan kami membikin acara masak-memasak di rumah kontrakan saya di Bhumi Nirwana, Balikpapan. Mereka yang pernah kami undang adalah teman-teman dari Telkomsel, Milis Kaltim, Ikatan Jurnalis Televisi Balikpapan, anggota TNI, kru Info Channel, dan Yayasan Kasimo.

Sepekan kemudian, saya diberitahu Niko Ruru bahwa teman-teman BOS sudah menyiapkan ayam dan ikan. "Kita ditunggu hari Sabtu. Semua bumbu dan makanan sudah disiapkan," tutur Niko. Melalui jaringan di Facebook, informasi itu saya umumkan. "Pak...mau ikutan, Pak. Kalau boleh tau acara jam berapa dan apa yang harus kami persiapkan. Boleh bawa berapa orang, acaranya apa saja?" tanya Rina Dwi Noviani, Corporate Communication & Secretariat Group Area Pamasuka Telkomsel.

"Mbak Rina, teman-teman Telkomsel diberitahu, ya. Kita berangkat pagi karena nanti di sana kita semua akan menanam pohon lebih dulu," kata saya. Sabtu (20/6) pagi itu, suasana di markas Tribun Kaltim masih sepi. Saya, Kapten Answari, Niko, Feri Mei Efendi, dan sejumlah karyawati Tribun Kaltim yang sedang libur, menunggu di depan kantor sambil membaca koran.

"Sebelum berangkat kita ke Pasar Buton dulu beli tahu dan tempe. Kan bisa dibakar di sana," kata saya. Sambil menunggu kedatangan rombongan dari Telkomsel, kami bergerak menuju Pasar Buton. Sedikitnya 10 kantong tahu dan lima kantong tempe dibawa ke lokasi. Rombongan lalu bergerak. Di tengah jalan, Koordinator Milis Kaltim, Nani Tajriani menghubungi saya. "Lokasinya di sebelah mana? Kami sebentar lagi berangkat bersama teman-teman," katanya.

Pagi itu perjalanan menuju BOS terasa amat menyenangkan. Untuk mencari lokasinya, rasanya agak rumit juga. Mengapa? Tak ada tanda petunjuk menuju lokasi, terutama bagi para pengunjung yang melewati jalan utama Balikpapan-Samarinda. Bagi mereka yang hendak ke BOS, disarankan lewat jalur Manggar. Jalur lebih dekat dari Balikpapan, dibanding harus memutar melalui jalan utama menuju Samarinda.

Satu jam kemudian, rombongan tiba. Pintu gerbangnya berwarna hijau. Jalan menuju ke areal lokasi, tak begitu mulus. Masih jalan makadam alias jalan yang baru pengerasan saja. Sebelum menuju ke kantor BOS, para tamu diminta lapor ke petugas keamanan setempat. Setelah itu, mobil bergerak menuju ke sebuah bangunan yang dari jauh terlihat mentereng dan di sebelahnya ada menara tinggi mirip pagoda. Sepanjang perjalanan, hutannya terlihat masih baik. Seperempat jam kemudian, tibalah kami di markas BOS. Namanya Samboja Lestari. Dari kejauhan, terlihat Ishak Yassir melambaikan tangannya. Mobil berhenti. Sayangnya, lapangan parkir depan kantor tak begitu luas.

Kami lalu melangkahkan kaki masuk ke dalam kantor. Ishak Yassir menyambut kami bersama Nanang Qasim (Manager Project Wanariset Samboja Orangutan Reinstroduction) dan Giono (Manajer Rehabilitasi). "Kita semua sekarang berada di sini," kata Ishak Yassir, sambil menunjuk foto udara yang dipampang di ruang tamu. "Sebelum bangunan seperti sekarang, dulu tahun 2004 bangunannya seperti ini (berupa rumah biasa terbuat dari kayu). Nanti teman-teman kami ajak menanam pohon dan jalan-jalan melihat gudang buah. Setelah itu kita ke tempat beruang, lalu ke pulau melihat orangutan. Dari situ nanti kita akan beristirahat ke Samboja Lodge," tambahnya.

Ishak Yassir sempat mengajak kami berkeliling di sekitar gedung yang begitu menawan. Ada kolam renang begitu luas. Ukurannya kira-kira 30 meter x 15 meter. "Sebenarnya ini bukan kolam renang. Tapi kalau teman-teman mau berenang silakan. Kedalamannya tiga meter. Kolam ini sengaja kami buat untuk menampung air dan bila ada kebakaran hutan, kami akan ambil dari sini," tuturnya.

Tak jauh dari kolam, ada anak tangga menjorok turun ke bawah. Kami semua diajak menuruni anak tangga. Di bawahnya, ada dua kamar, mirip kamar hotel, lengkap dengan fasilitas kamar mandi, tempat tidur, ruang tamu dan di depannya ada meja kursi untuk  bersantai. "Kamar ini sengaja kami buat untuk para peneliti dari dalam negeri maupun luar negeri. Mereka tinggal di sini. Kalau Pak Bechi, mau... silakan bermalam di sini sambil mengetik berita," kata Ishak Yassir. 

Selain itu, Ishak juga menawarkan kepada teman-teman rombongan yang mau beristirahat untuk tidur di dua kamar yang begitu luas. "Ini tempat untuk kalian yang mau istirahat, mau shalat," pesannya. Dari Samboja Lestari, kami lalu diminta bersiap-siap menuju ke sejumlah titik lainnya. Ketika mobil menuju ke lokasi tempat menanam pohon, mendadak ada telepon masuk ke telepon seluler saya. "Lokasi persisnya di mana? Kami sudah ada di dekat Polsek Samboja," kata Nani Tajriyani, Koordinator Milis Kaltim yang ternyata ikut menyusul rombongan terdahulu.

"Dari depan Polsek... terus saja. Nanti ada lapangan bola. Dari lapangan bola... kira-kira 100 meter, lalu belok ke kanan," kata saya. Selang berapa saat kemudian, Nani telepon lagi. "Kami sudah di lapangan bola? Di mana lokasinya?" "Maju terus... sedikit lagi lalu belok kanan," jelas saya. Lima menit, lagi-lagi telepon berbunyi. "Jalannya yang naik itu ya? Tapi kok ini kita masuk kuburan? Mana sih yang benar...," tanya Nani.

Saya tertawa ngakak, teman-teman lainnya ikutan tertawa setelah saya menceritakan kepada mereka bahwa teman-teman Milis Kaltim nyasar masuk kuburan. "Lha kok bisa nyasar ke kuburan? Gimana ceritanya," tanya Kapten Answari Jadi. Agar mereka tidak keliru, saya minta tolong Answari menjemput teman-teman Milis Kaltim di depan pintu gerbang. Ternyata, kata Answari, "Mereka kok masih sempat-sempatnya potret bareng di depan gerbang... Ha.. ha... ha..." kenangnya. 

                                                                                                       ***
DARI kantor BOS, mobil menuju lokasi penanaman.
Jaraknya lumayan jauh, dekat pos keamanan. Sebelum pos, mobil belok ke kanan, masuk di antara semak-semak belukar. Udara panas, tak menghalangi kami ikut membantu melestarikan lingkungan sebelum Bumi yang kita pijak ini hancur berantakan, manakala pemanasan global tak bisa dicegah.

Di hutan itu, Ishak Yassir memandu kami. "Silakan pilih bibit mana saja yang ditanam. Nih juga ada cangkul. Nah, khusus Mbak Rina dari Telkomsel, beliau harus menanam 20 tanaman. Dia kan jebolan kehutanan juga," kelakar Yassir. Rina, terlihat senyam-senyum. "Aduh Pak.... 20 terlalu banyak. Ha.. ha.. ha..." Bibit tanaman yang disediakan di antaranya durian, langsat, mangga, dan cempedak.

Walau lubangnya sudah disediakan, ternyata menanam pohon rasanya capek juga. Saya sendiri memilih durian. Setelah plastik pembungkus akar saya lepas, lalu tanaman itu saya masukan ke dalam lubang dan saya ambil cangkul untuk menimbunnya. Rupanya, saat saya menanam, Ishak Yassir mengamati saya. Ia mendekat. Diambilnya ilalang yang sudah kering, lalu ditaruh di sekitar pohon yang saya tanam. Buat apa? "Harus kita kasih ini Pak Bechi, biar nanti kalau hujan tetap lembap," tuturnya.

Beberapa teman lainnya terlihat sibuk menanam. Sesekali teman-teman terlihat kegerahan, karena udara hari itu lumayan panas. "Ternyata menanam pohon agak rumit juga, ya," keluh saya. Ishak hanya tertawa. "Yang enggak rumit itu adalah menebangi pohon Pak Bechi... Begitu sudah besar, orang dengan enak saja membabati hutan," tuturnya.

Sebelum pulang, saya melihat Yassir masuk ke dalam mobil. Kali ini ia mengambil golok. Hah? Untuk apa? Golok itu dipukulkannya ke batang pohon yang tak begitu besar dan menjulang tinggi. Saya terus mengamatinya. Astaga, kulitnya diambil. "Coba Pak Bechi... cium bahunya...." pintanya. Saya lalu menciumnya. Aromanya mirip dengan parfum. "Persis kayak parfum kan Pak Bechi. Saya kira parfum yang sudah diolah dan dijual itu berasal dari pohon ini," celetuk Nanang Qasim. "Makanya... jangan di kantor terus. Kalau Pak Bechi sering turun ke lapangan seperti saya, bisa tahu betapa besar kekayaan alam negeri kita ini. Nanti saya tunjukkan tanaman yang akarnya juga mengeluarkan aroma," ungkap Ishak Yassir.  (*)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau