Kalah Rebutan Makan Digiring Masuk Kandang Besi

Kompas.com - 27/06/2009, 16:07 WIB

SABTU (20/6) lalu, Tribun Kaltim bersama Komunitas Athena diundang Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo di Jalan Balikpapan-Handil Km 44 Samboja Kutai Kartanegara. Selain menanam pohon, mereka juga diajak melihat beruang madu, orangutan, gudang buah, dan keindahan alam di sekitar Samboja Lestari. Berikut laporan wartawan Tribun Kaltim, Achmad Subechi.

SUASANA di Samboja Lestari nan menawan dimanfaatkan rombongan Telkomsel, Milis Kaltim dan awak Tribun Kaltim untuk mejeng, potret sana-sini. Hasilnya, lalu dilempar ke Facebook. Berbagai komentar mengalir tiada hentinya, memuji lokasi Samboja Lestari yang benar-benar aduhai.

"Ayo kita berangkat ke gudang buah," ajak Ishak Yassir, penggiat sekalius motor Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo. Lokasi gudang buah tak begitu jauh. Kira-kira 2 kilometer dari Samboja Lestari. Sekilas, bangunan itu seperti rumah biasa. Namun, setelah masuk ke dalamnya, kami mendapati freezer raksasa. Hampir sama dengan freezer yang ada di kapal perang. Di dalam freezer itu ada sejumlah rak untuk menumpuk buah.

Sebuah mobil pengangkut semangka berhenti tepat di mulut gudang. Semangka-semangka itu lalu dimasukan satu per satu ke dalam freezer. "Kami beli buah dari para petani yang ada di sini. Lumayan juga, pendapatan mereka per bulan bisa mencapai Rp 160 jutaan. Buah-buahan ini kami sediakan untuk makanan beruang dan orangutan," kata Ishak Yassir.

Dari gudang buah, mobil rombongan bergerak menuju ke tempat suaka beruang madu. Pagar besi setinggi lebih satu meter, terlihat mentereng di lahan seluas 58 hektar yang sengaja dipakai sebagai tempat rehabilitasi beruang madu hasil sitaan pemerintah. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok. Tujuannya tentu saja untuk membedakan jenis kelamin dan usia, sehingga mereka bisa hidup di habitat yang dilindungi.

Di atas kandang beruang, ada jembatan terbuat dari besi mirip tangga yang ditelentangkan. Disampingnya ada pipa air ledeng. Ketika kami bersama rombongan naik ke tangga itu, ada perasaan waswas. Cemas, sedikit ketakutan. Mengapa? Andai saja jembatan itu roboh atau pipa pegangan tangan patah, kami pasti ludes dicabik-cabik beruang madu yang kukunya terlihat amat tajam.

Seorang karyawati Telkomsel yang ada di depan saya, tiba-tiba menepi di sudut jembatan. "Takut...?Ayo... saya pegangi.." tutur saya. "Enggak, Pak... saya di sini saja," jawabnya. Wajahnya kelihatan pucat. Napasnya sedikit agak berat. Sementara anggota rombongan lainnya, sudah melangkah sekitar 20 meter. Lalu mereka berhenti. Rombongan yang di belakangnya mulai berteriak, "Kok, berhenti? Ayo maju...." Teriakan itu tak digubris. Entah apa penyebabnya. Yang jelas, Ishak Yassir bercerita ke saya, jembatan besi ini panjangnya sekitar 1,5 kilometer. "Kalau mau terus berjalan, silakan..." tutur Ishak.

Saya sempat memperhatikan sejumlah beruang madu yang ada di bawah. Badannya berdiri tegap sambil mulutnya mengangga. Kami sedikit ngeri. "Itu kandang dari besi buat apa?" tanya seorang di antara kami kepada Ishak Yassir. Kandang itu letaknya berdampingan dengan areal rehabilitasi. "Beruang madu itu kalau makan saling berebutan. Nah, bagi mereka yang tidak kebagian, maka mereka kami giring ke kandang untuk diberi makan," ungkap Ishak.

Selesai melihat-lihat beruang, perjalanan dilanjutkan menuju ke enam pulau buatan seluas 2,52 hektar. Pulau-pulau itu menjadi tempat orangutan. Ketika kami tiba di lokasi, puluhan orangutan terlihat bermain-main di pulau-pulau itu. Ada juga yang sambil mengendong anaknya. "Teman-teman, silakan melihat orangutan di sebelah sini. Orangutan yang ada di pulau sebelah sana itu sedang sakit. Untuk itu kami tidak izinkan teman-teman melihatnya," tambah Ishak diamini Nanang Qasim (Manager Project Wanariset Samboja Orangutan Reinstroduction). 

Karena itu, semua orangutan yang baru tiba di areal Nyaru Menteng, lebih dulu melalui proses karantina. Mengapa? Ada beberapa jenis penyakit yang berpotensi menyerang mereka. Di antaranya, TBC, herpes, HIV, dan hepatitis. Setelah lulus uji karantina, mereka segera dipindahkan ke level rehabilitasi.

Kenapa orangutan harus dilestarikan? Berdasarkan perkiraan Bank Dunia, industri penebangan hutan di Kalimantan mengakibatkan kepunahan hutan total pada tahun 2010. Saat ini saja, rata-rata 2.000 orangutan lenyap setiap tahunnya. Jika tidak dijaga, maka diperkirakan sepuluh tahun kedepan, binatang lugu dengan tatapan matanya yang indah, akan punah di muka bumi.

Sebenarnya, kata Ishak Yassir, orangutan ini perilakunya mirip manusia. Ketika mereka melihat wanita, maka orangutan itu berusaha mencari perhatian. "Wah... berarti tebar pesona dong, Pak," kelakar Rina. Kami semua lalu tertawa terbahak-bahak. Di tempat ini beberapa pelancong dari luar negeri sibuk melihat-lihat orangutan yang sedang bermain-main. "Setiap beberapa bulan sekali tanaman yang ada di pulau itu kita perbaiki lagi," jelas Ishak kepada saya. "Kenapa?" "Biasa... mereka (orangutan) kan suka bermain-main. Jadi banyak tanaman yang rusak," tuturnya.

Kawasan konservasi satwa ini juga dilengkapi sekolah hutan yang menyediakan tempat bermain dan pengenalan kembali keterampilan yang diperlukan orangutan untuk hidup, setelah dilepasliarkan di habitat aslinya. Rinciannya, Sekolah Hutan I luasnya sekitar 47 hektare dan telah dioperasikan.  Sedangkan Sekolah Hutan II luasnya sekitar 15 hektare.

Pada tahun 2006, kata Ishak Yassir, kawasan BOS berupa lahan kritis alang-alang seluas kurang lebih 1.800 hektare. Kemudian lahan itu disulap menjadi areal hutan tempat perlindungan satwa liar, terutama orangutan dan beruang madu yang tidak dapat dilepasliarkan ke alam karena penyakit, umur yang sudah tua, dan cacat fisik.

Dari luas areal itu, sekitar 82 hektare dialokasikan untuk pengembangan arboretum sebagai konservasi plasma nutfah berbagai jenis tanaman asli Indonesia. Diharapkan, sedikitnya 3.000 jenis tanaman akan terkoleksi, khususnya tanaman lokal Kalimantan. Dengan begitu, memudahkan para peneliti untuk melakukan penelitian dan juga sebagai media program edukasi dan pengetahuan bagi sekolah dan masyarakat lokal. Sampai saat ini sekitar 14,37 hektar telah tertanami.  (*)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau