Hanya Unjuk Rasa, Bukan Revolusi

Kompas.com - 28/06/2009, 04:43 WIB

Mustafa Abd Rahman

KOMPAS.com - Denyut kehidupan kota Teheran, ibu kota Iran, akhir pekan ini terasa normal saja meskipun belum lama terjadi gonjang ganjing politik pascapemilu presiden 12 Juni lalu.

Pada pagi hari mulai pukul 08.00, warga kota Teheran tampak sibuk bergegas menuju tempat kerja masing-masing. Pada sore hari mulai pukul 15.00, mereka bergerak pulang dari tempat kerja.

Alat transportasi utama seperti metro bawah tanah dan bus umum penuh sesak penumpang pada jam berangkat kerja dan juga pada jam pulang kerja.

Ketika Kompas mengunjungi Bazari (kompleks pasar besar di Teheran), tidak ada pula tanda-tanda gejolak. Para pedagang tampak sibuk mempromosikan jualannya. Mereka seakan tak peduli dengan perkembangan politik pascapemilu 12 Juni lalu. Padahal, Bazari adalah salah satu tempat yang paling bergejolak ketika meletus revolusi Iran tahun 1979.

Ritme kehidupan Teheran yang tampak tidak terganggu oleh gejolak politik pascapemilu 12 Juni itu segera memberi kesan bahwa lingkup sosial politik gerakan pendukung calon presiden kalah dari kubu reformis, Mir Hossein Mousavi, tidak bisa mengarah ke revolusi, melainkan hanya sebuah unjuk rasa. Ibarat langit dan bumi jika membandingkan saat terjadi revolusi Iran 1979 dengan kerusuhan pascapemilu 12 Juni itu.

Sebatas di Teheran

Ada beberapa catatan yang membuat gerakan pendukung Mousavi sangat sulit menuju ke arah revolusi.

Pertama, aksi gerakan pendukung Mousavi sejauh ini masih sebatas di kota Teheran. Bandingkan dengan revolusi 1979 yang mengguncang seluruh negeri Iran, bahkan sampai ke desa-desa. Kehidupan di Iran, khususnya kota Teheran, sempat lumpuh berbulan-bulan menjelang revolusi 1979 itu.

Kedua, di kota Teheran pun, aksi gerakan pendukung Mousavi hanya terkonsentrasi di beberapa tempat atau jalan, seperti Bahariztan, Mufatteh, alun-alun Imam Khomeini, alun-alun Azadi, dan alun-alun Haft-E-tir.

Tempat-tempat tersebut berada di wilayah Teheran utara dan tengah yang berpenduduk kelas menengah dan atas. Adapun wilayah Teheran selatan yang berpenduduk kelas bawah tidak tersentuh oleh gerakan pendukung Mousavi.

Bandingkan dengan revolusi 1979 yang menyentuh semua wilayah Teheran, dan bahkan wilayah Teheran selatan menjadi penggerak dan basis utama revolusi. Karena itu, tak berlebihan bila revolusi 1979 disebut revolusi akar rumput.

Ketiga, secara strata sosial, Mousavi hanya didukung kuat oleh mahasiswa, kaum intelektual, dan kaum profesional. Adapun Bazari (pedagang) dan kaum buruh tidak sepenuhnya mendukung Mousavi. Bandingkan dengan revolusi 1979 yang didukung penuh Bazari dan kaum buruh.

Keempat, pertarungan politik di Iran saat ini masih dalam satu atap sistem, yaitu Republik Islam Iran hasil revolusi 1979. Para pemain yang berseteru itu adalah sama-sama anak dan loyalis revolusi 1979. Mousavi sendiri sering menegaskan, aksi protesnya atas hasil pemilu 12 Juni lalu bukan bertujuan mengubah sistem, tetapi hanya ingin memperbaiki sistem yang ada ke arah yang lebih demokratis.

Sektor ekonomi

Mousavi dalam wawancara dengan harian berbahasa Arab, Asharq Al Awsat, edisi hari Minggu 3 Mei 2009 mengungkapkan, keputusannya ikut bertarung dalam pemilu presiden setelah 20 tahun absen dari panggung politik karena melihat pemerintah Presiden Mahmoud Ahmadinejad banyak melakukan kesalahan kebijakan, terutama sektor ekonomi.

”Saya akan melakukan banyak perbaikan kebijakan dalam sektor ekonomi jika terpilih sebagai presiden” kata Mousavi.

Pernyataan Mousavi tersebut menunjukkan, pertarungan di Iran hanya menyangkut kebijakan dalam payung sistem Republik Islam Iran itu.

Rekam jejak Mousavi sendiri penuh dengan catatan perjuangan membela revolusi. Pascarevolusi 1979, Mousavi langsung dipercaya menjabat pemimpin redaksi koran Jumhuri Islami yang merupakan koran pertama sebagai corong revolusi.

Mousavi pernah menjadi juru bicara Partai Republik Islam (IRP), sebuah partai yang dibentuk pertama kali pascarevolusi. Mousavi kemudian dipercaya menjabat perdana menteri selama delapan tahun (1981-1989), di bawah Presiden Ali Khamenei yang kini menjabat pemimpin spiritual.

Sedangkan sebuah gerakan bisa disebut revolusi jika bertujuan mengubah sistem, seperti revolusi Perancis tahun 1789, revolusi Bolshevik di Rusia tahun 1917, revolusi Mesir tahun 1952, dan revolusi Iran tahun 1979.

Kelima, gejolak politik di Iran saat ini masih sebatas akibat pertarungan elite. Buktinya, dinamika politik itu hanya terjadi di Teheran, bukan di seantero Iran. Berbeda sekali dengan revolusi 1979 yang digerakkan oleh kalangan menengah dan bawah seperti kaum buruh, Bazari, dan penduduk pedesaan.

Meski masih jauh disebut revolusi, gejolak politik pascapemilu 12 Juni itu cukup menarik perhatian media massa lokal dan para elite negara itu. Press TV (TV milik Pemerintah Iran), misalnya, hampir setiap malam menayangkan acara debat politik pascapemilu 12 Juni itu dengan melibatkan para pakar.

Koran-koran lokal seperti The Tehran Times, Kayhan, Resalat, dan Ettelaat selalu menurunkan berita utama tentang perkembangan politik pascapemilu 12 Juni itu.

Pemerintah Iran tampaknya memberi kebebasan seluas-luasnya memperdebatkan hasil pemilu 12 Juni itu dan kerusuhan politik pascapemilu tersebut melalui media cetak maupun elektronik lokal.

Namun, Pemerintah Iran sangat tidak toleran terhadap aksi protes jalanan menyangkut hasil pemilu itu.

Tidak heran jika pemerintah menurunkan aparat keamanan antihuru-hara dan Basij (milisi loyalis revolusi) dalam jumlah cukup besar di tempat-tempat strategis, seperti Bahariztan, alun-alun Azadi, dan alun-alun Imam Khomeini, untuk mencegah aksi protes jalanan.

Peran Basij

Pemerintah Iran secara khusus mengandalkan Basij untuk menumpas segala bentuk aksi atau sindikat di dalam negeri yang mengancam revolusi. Basij (mobilisasi) adalah bagian dari struktur pengawal revolusi yang dibentuk pada bulan November 1979 atas perintah Pemimpin Revolusi Ayatollah Imam Khomeini.

Tidak ada angka pasti tentang jumlah anggota Basij itu, namun ada yang memperkirakan jumlah anggota Basij mencapai 20 juta dan ada pula yang menyebut 11 juta anggota.

Pembentukan Basij berdasarkan pada konstitusi no 151 yang menyerukan pemerintah melaksanakan kewajibannya sesuai dengan petunjuk kitab suci Al Quran. Konstitusi itu juga meminta pemerintah membekali penduduk dengan alat bela diri untuk membela dan mempertahankan revolusi.

Di Teheran, sangat mudah menjumpai Basij yang berkeliaran di jalan-jalan raya ibu kota Iran itu. Salah satu ciri Basij adalah mengenakan pakaian seragam loreng-loreng. Mereka biasanya mengendarai sepeda motor secara ramai-ramai, yang bisa terdiri sedikitnya 10 sepeda motor.

Mereka tampak sigap memantau kiri-kanan jalan yang dilalui konvoi sepeda motor Basij itu.

Basij setiap saat bisa melakukan pemeriksaan di jalan raya atau tempat umum lainnya di seantero Iran.

Kekuatan Basij adalah para anggotanya terintegrasi dengan masyarakat sehingga apa pun dinamika yang terjadi di kalangan masyarakat cepat terdeteksi oleh Basij.

Seorang mahasiswa Indonesia yang sudah lama berdomisili di Teheran mengungkapkan, prestasi terbesar Basij terakhir ini adalah mereka mampu membongkar jaringan pengedaran narkotika di Iran.

Basij kini juga dianggap berperan besar membungkam aksi gerakan pendukung Mousavi pascapemilu 12 Juni itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau