Biar Cerdas, Publik Justru Membutuhkan Kampanye Negatif

Kompas.com - 29/06/2009, 12:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Makin maraknya lontaran isu negatif dari satu kandidat pasangan calon presiden dan wakil presiden terhadap kandidat lain menjelang Pemilihan Presiden 8 Juli kerap menimbulkan kontroversi.

Namun, kampanye negatif sebenarnya berguna atau tidak bagi publik? Pasalnya, publik kerap membenci pihak yang melontarkan kampanye negatif. Akibatnya, kampanye negatif justru cemderung menguntungkan pihak yang 'terdzolimi'.

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lili Romli mengatakan pada dasarnya kampanye negatif justru berguna untuk mencerdaskan publik sebagai calon pemilih. Kampanye negatif membantu mereka kritis terhadap kelemahan calon pemimpin pilihan mereka nantinya.

Menurut Lili, kultur masyarakat Indonesia sendiri belum dapat menerima kampanye negatif dengan baik sebagai fasilitas untuk mencerdaskannya. Masyarakat malah merespon tidak baik. Ketika ada berita yang memuat kampanye negatif, respon masyarakat justru sinis.

"Padahal dengan kampanye negatif, kita bisa menelanjangi sisi kelemahan calon tertentu sehingga mengubah pilihan pemilih," tutur Lili dalam konferensi pers bersama Strategy PR di Omah Sendok Jakarta, Senin (29/6).

Tidak dapat disalahkan, tutur Lili, karena kultur masyarakat Indonesia cenderung melankolis. Mudah terbuai. Kultur masyarakat yang demikian juga akhirnya menimbulkan ketakutan kandidat pasangan capres dan cawapres untuk melemparkan kampanye negatif. Mereka takut kampanye model itu justru akan menjadi blunder bagi citranya sendiri.  "Di Indonesia, seringnya tidak seperti itu, yang mendapat jelek itu justru yang menyerang," lanjut Lili. 

Apalagi, ungkap dia, sumber pemberitaan kampanye negatif di Indonesia sering tidak diketahui oleh publik. Misalnya, ketika isu neoliberalisme atau jilbab dilemparkan, bukan kandidat yang melemparkan. Bahkan publik cenderung tidak tahu jelas siapa yang melemparkan.

Dia meminta, masyarakat membedakan antara kampanye negatif dengan black campaign atau kampanye hitam yang sifatnya buruk. "Black Campaign itu kan penyebaran isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Kalau kampanye negatif berkaitan dengan sisi kelemahan figur, program dan kebijakan sehingga publik mengetahui tidak hanya sisi positif calon tapi juga sisi negatifnya," tutur Lili.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau