Sosialisasi Keliru Mengenai BLT di Desa Terpencil

Kompas.com - 29/06/2009, 13:07 WIB

KEFAMENANU, KOMPAS.com - Penilaian warga terpencil di Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, dan Kabupaten Belu bahwa petani miskin pun saat ini telah mendapatkan gaji rutin, itu sangat keliru.

Bantuan langsung tunai bukan masuk kategori gaji seperti diterima para PNS, TNI dan Polri. Bantuan langsung tunai (BLT) telah dimanfaatkan pihak tertentu untuk memperdaya masyarakat menjelang Pilpres, 8 Juli 2009. Warga semestinya diberi hak politik untuk memberi pilihannya, bukan digiring untuk memilih calon presiden tertentu.

Direktur Yayasan Peduli Sesama NTT Isidorus Kopong Udak usai mengunjungi masyarakat di Desa Nilulat, Kefamenanu, Senin (29/6) mengatakan, dalam pertemuan dengan warga terpencil di sejumlah tim sukses pasangan calon presiden dan wakil presiden tertentu di Kecamatan di Timor Tengah Utara (TTU), telah merekayasa kebijakan politik pemerintah untuk kepentingan tertentu.

Para petani, peternak dan nelayan di desa desa itu mengatakan, dulu hanya PNS yang dapat gaji, sekarang mereka semua terima gaji rutin, meski hanya Rp 100.000 per bulan.

Meski jumlah gaji kecil, tetapi diterima semua kalangan petani atau warga desa miskin. "Masyarakat harus diajari berdemokrasi secara sehat bukan dengan cara cara yang memperdaya mereka. Biarkan mereka sendiri menjatuhkan pilihannya, dan tidak digiring untuk memilih pasangan calon tertentu," kata Udak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau