Wagub Rustriningsih Kecam Pemerintah Pusat

Kompas.com - 29/06/2009, 19:43 WIB

MAGELANG, KOMPAS - Dalam acara temu peneliti, penyuluh, dan petani di Balai Desa Candirejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Senin(29/6), Wakil Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih banyak melontarkan kritik, mengecam pemerintah pusat. Selain masalah menumpuknya utang negara, dia pun memaparkan laporan audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tentang ketidakberesan keuangan negara dan kesemrawutan sistem birokrasi.  

"Melihat kondisi sekarang ini, harapan saya bersama Pak Bibit (Gubernur Jawa Tengah Bibit Wa luyo) untuk hidup lebih baik, bertumpu sepenuhnya pada saudara-saudara semua. Kita harus segera keluar dari situasi seperti ini," ujarnya setengah berorasi, di hadapan sekitar 400 peserta acara temu peneliti, penyuluh, dan petani.

Rustriningsih memaparkan, selama 42 tahun pemerintahan di Indonesia berjalan, utang negara telah mencapai Rp 1.275 triliun. Sebanyak Rp 392 triliun di antaranya adalah tambahan utang yang tercatat per Februari 2009.

"Dengan kata lain, untuk tahun ini saja, pemerintah sekarang telah menyumbang hutang sebesar 31 persen," ujarnya.

Rustriningsih mengatakan, slogan atau wacana tentang sistem pemerintahan yang baik, partisipatif, good governance, hanyalah bohong belaka. Sebab, pada kenyataannya, pemerintahan sekarang juga tidak bisa mengelola keuangan dengan baik.

"Terbukti, hasil audit BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) menyatakan, keuangan pemerintah disclaimer selama lima tahun," ujarnya.

Tidak hanya itu, birokrasi pemerintahan pun dinyatakan terburuk kedua setelah India.

Dengan berbagai fakta buruk tersebut, Rustriningsih berkali-kali mengatakan, bahwa inilah saatnya masyarakat harus berusaha bangkit, dan tidak terus menerus bertahan dalam situasi sekarang. Perlu pembenahan di semua elemen, termasuk dalam sistem pemerintahan yang berjalan sekarang.

Bupati Magelang Singgih Sanyoto mengatakan, dia terus berupaya melakukan perbaikan dan pembenahan. Dalam hal ini, salah satu bidang menjadi prioritas adalah bidang pertanian. Sebab, bidang inilah yang menghidupkan Kabupaten Magelang.

"Bidang pertanian juga perlu didukung karena sektor ini menjadi soko guru ekonomi kerakyatan," ujarnya.

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau