YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Neoliberalisme, yang banyak dirumuskan sebagai perdagangan bebas, adalah fakta yang terus menggerus. Yang bisa dilakukan Indonesia adalah bertahan, menjalankan apa saja hal yang memperkuat perekonomian rakyat, dan sebisa mungkin penduduknya punya kreasi mencipta lapangan kerja.
Demikian intisari dialog Budaya dan Gelar Seni YogyaSemesta Seri ke-23 di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta,Selasa (30/6) malam. dialog menghadirkan pembicara pakar ekonomi UGM Sri Adiningsih, ekonom yang juga tim ahli Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM Revrisond Baswir, Benny Soetrisno (Ketua Umum DPP API), dan Ketua Program Studi Kajian Budaya Pascasarjana Universitas Sanata Dharma St Sunardi. Pengasuh YogyaSemesta Hari Dendi, sebagai moderator.
"Pembangunan ekonomi negara-negara, tak tergantung lagi pada sumber daya alam. Sudah beralih ke industri pengolahan dan jasa. Pembangunan terus bergerak, dan yang penting kita harus punya kreasi pekerjaan," ujar Sri.
Revrisond mengatakan, banyak hal penguat ekonomi rakyat yang justru punah. "Misalnya di Pasar Beringharjo Yogyakarta. Koperasi yang ada, sudah ditendang keluar," katanya
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang