Disiksa Majikan, TKW Asal Sumbawa Terkatung-katung di Arab Saudi

Kompas.com - 01/07/2009, 22:13 WIB

TABUK, KOMPAS.com — Sungguh malang nasib Maskendi binti Kulin, warga Desa Air Suni, Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Besar, NTB. Maksud hati mengubah nasib dengan mengadu untung menjadi TKI ke Arab Saudi, tetapi malah berujung nestapa.

Dia bekerja di Arab Saudi, tepatnya di kota Tabuk.Umur dia 30 tahunan sudah mempunyai suami meski belum dikaruniai anak. Niat ke Saudi untuk mencari nafkah membantu ekonomi keluarga. Bukannya gaji yang dia terima, tetapi siksaan yang kejam dia dapat.

Sejak pertama dia bekerja sudah mendapatkan kekerasan dari majikan. Selama 2 tahun 6 bulan bekerja belum digaji sama sekali. Menghubungi keluarga di Indonesia pun tidak bisa. Kedua majikannya menyiksanya kalau Maskendi berusaha membela diri walaupun dengan kata-kata.

Kondisi Maskendi sangat memprihatinkan. Badannya kurus, luka bakar di tangan, muka, dan punggung. Mukanya cacat karena dipukul dengan gayung sayur yang panas sehingga kulit mukanya terbakar.

"Dia bercerita bahwa pernah berusaha kabur tetapi selalu gagal. Usaha terus dilakukan dan akhirnya berhasil kabur. Namun, kemudian tertangkap polisi," cerita salah seoarang warga Indonesia dalam e-mail yang dikirim ke Kompas.com. Untungnya, setiap TKW yang kabur dan tertangkap, pihak kepolisian selalu berkoordinasi dengan satgas KJRI.

Akhirnya, ditemukan bukti-bukti kekerasan yang sangat kejam dilakukan majikan Maskendi. Sekarang, dia tinggal di rumah perlindungan KJRI. Maskendi bercerita bahwa jam kerja dia hampir 24 jam sehari. Kapan saja majikan butuh, maka dia harus siap melayani layaknya budak belian.

Pekerjaan yang dilakoninya selama ini ternyata tidak sesuai yang dia bayangkan dan impian waktu masih di Indonesia. Malah dia mendapatkan cacat muka dan giginya rontok karena disabet dengan selang air.

Apalagi, ia tinggal di kota Tabuk yang jaraknya 1.000 kilometer dari KJRI di Jeddah. Di Tabuk juga ada wadah perkumpulan orang Indonesia Tabuk Saudi Arabia yang saling membantu permasalahan-permasalahan yang ada.

Di Tabuk sendiri ada rumah perlindungan KJRI dan dua Satgas KJRI Jeddah. Di rumah perlindungan tersebut banyak TKW bermasalah yang masih ditampung dengan beraneka ragam kasusnya.

Maskendi hanyalah salah satu korban penyiksaan yang dialami TKW asal Indonesia di Arab Saudi. TKW lainnya ada yang bahkan tidak digaji selama 15 tahun. Ada pula yang jatuh dari rumah tingkat karena menyelamatkan diri dari usaha pemerkosaan anak majikan, dibunuh, diperkosa, disiksa, dan lain lain.

Bukan saat ini kekerasan dan penyiksaan dialami TKW di Arab Saudi, tetapi sudah berlangsung selama bertahun-tahun dan tidak hanya dialami TKW asal Indonesia. Akibat hal tersebut, Pakistan berani menghentikan pengiriman TKW untuk pembantu ke Timur Tengah karena mereka melihat banyak kasus yang menimpa TKW mereka. Banglades juga menghentikan pengiriman TKW ke Arab Saudi. Bagaimana dengan Indonesia?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau