KOMPAS.com - Mimik lelah masih tergurat jelas di wajah Cicuk Sastrosoedirdjo (52), saat keluar dari kompleks pemakaman Bergota, Kota Semarang, Rabu (1/7) sekitar pukul 16.30. Sore itu, dia bersama 40 anggota Ngesti Pandowo lainnya berziarah ke makam para pendiri Ngesti Pandowo.
"Sisa anggota masih pada kecapekan setelah pentas semalam, jadi tidak dapat ikut hadir ke sini," kata Cicuk, yang merupakan pimpinan kelompok wayang orang Ngesti Pandowo.
Dalam rangka hari ulang tahunnya ke-72, Ngesti Pandowo yang berjumlah 85 orang tersebut memang baru saja menampilkan wayang orang humor dengan lakon Semar Mantu pada Selasa (30/6) malam. Penampilan lebih kurang selama tiga jam itu turut bermain Ki Mantheb Soedarsono, Ki Joko Hadiwiyono, dan Prof Edi Dharmana.
Ketika berziarah, seluruh elemen Ngesti Pandowo memanjatkan doa pasrah. Kami hanya menginginkan bahwa Ngesti Pandowo dapat bertahan dan kembali ke masa kejayaannya, kata Cicuk.
Ngesti Pandowo memang sudah tidak seperti dulu lagi, yang pernah mengenyam masa kejayaan hingga 1980-an. Setelah berusia 72 tahun, kelompok wayang orang yang berdiri pada 1 Juli 1937 ini masih harus bertarung mati-matian untuk menghidupi dirinya sendiri.
Sebagai gambaran, Ngesti hanya ditonton oleh rata-rata 50 orang setiap kali tampil atau menghasilkan Rp 500.000. Dari empat kali penampilannya per bulan, Ngesti bisa memperoleh pemasukan Rp 2 juta ditambah Rp 10 juta yang diambil dari bunga deposito bersama hasil ganti rugi penggusuran dari Gedung Rakyat Indonesia Semarang.
"Kami masih harus tombok, karena biaya operasional wayang tersebut mencapai Rp 13 juta Rp 15 juta per bulan. Padahal, pemasukannya hanya Rp 12 juta," ucapnya.
Setiap pemain Ngesti Pandowo hanya digaji Rp 30.000 Rp 50.000 setiap kali pentas, tergantung peran dan tanggung jawabnya. Tak heran, jika kebanyakan anggota juga bekerja sebagai pegawai negeri sipil, karyawan swasta, pedagang, atau mahasiswa.
Minimnya pendapatan ini berujung pada masalah lainnya, seperti lemahnya regenerasi, manajemen yang masih bersifat keluarga, pementasan yang monoton, dan keringnya kreativitas.
Ketua Dewan Pembina Ngesti Pandowo Edi Dharmana menyatakan, perlu ada revitalisasi di tubuh Ngesti Pandowo untuk menghadapi perubahan zaman dan mengatasi berbagai permasalahan yang timbul. Keterlibatan unsur kekinian perlu dimasukkan agar pertunjukan tidak monoton.
"Sentuhan kreativitas berupa tarian, musik, dan tarian masa kini memang sangat dibutuhkan. Selain itu, manajemen perlu dibuat lebih terbuka agar bisa mengatur arus keuangan, latihan, dan pementasan," ujar Edi.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang Agung Prijo Oetomo mengatakan, sentuhan kreativitas membuat pementasan Ngesti Pandowo memiliki warna tersendiri.
Terhambat dana
Cicuk mengaku sepakat dengan perlunya revitalisasi dalam manajemen Ngesti Pandowo. Namun, setiap perubahan yang ingin ditampilkan selalu terhambat minimnya dana.
"Regenerasi perempuan terkendala gaji kecil, modifikasi pementasan terhambat penyewaan alat dan pelatih, serta publikasi juga tidak bisa dilakukan karena tidak ada anggaran," ujar Cicuk.
Pada tahun 2009 ini, Agung mengakui, Ngesti Pandowo mendapat suntikan anggaran sebesar Rp 25 juta untuk membantu menutup biaya operasionalnya. Selain itu, Pemprov Jateng juga menyubsidi Rp 33,6 juta.
Bagaimanapun juga, Edi berpendapat, pemerintah tidak bisa lepas tangan dengan salah satu ikon budaya di Kota Semarang. HUT ini diharapkan menjadi momen bagi Ngesti Pandowo untuk bangkit dan kembali ke era kejayaannya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang