Pekan Depan Zelaya Pulang

Kompas.com - 02/07/2009, 07:19 WIB

TEGUCIGALPA, KOMPAS.com - Presiden terguling Honduras Manuel Zelaya, Rabu (1/7), mengatakan ia telah menjadwal-ulang kepulangannya yang direncanakan ke Honduras pekan ini, setelah berakhirnya ultimatum 72 jam yang dikeluarkan Organisasi Negara Amerika (OAS) agar memulihkan kekuasaannya.
   
"Kami akan menunggu 72 jam guna melanjutkan proses ini mengingat ultimatum OAS," kata Zelaya kepada wartawan Rabu, sehari sebelum ia dijadwalkan bertolak ke negara asalnya untuk pertama kali sejak digulingkan dalam kudeta Minggu (28/6).
   
Zelaya, yang berada di Panama bagi pelantikan jutawan konservatif Ricardo Martinelli sebagai presiden baru di negeri tersebut, mengatakan kendati diancam akan ditangkap, ia akan pulang untuk meminta kembali jabatannya. "Kepulangan saya ke Honduras dijadwalkan akhir pekan," kata Zelaya di Kota Panama, tanpa menetapkan harinya.
   
Pernyataannya disampaikan di tengah peningkatan tekanan internasional agar jabatan Zelaya dipulihkan.
   
OAS, dalam satu komunike, Rabu, mengatakan Honduras menghadapi risiko diskors dari organisasi itu kalau tak memulihkan jabatan Zelaya, salah satu dari beberapa tindakan oleh organisasi dan pemerintah asing yang menekan negeri tersebut.
   
Pentagon, Rabu, menghentikan semua kegiatan militer dengan Tegucigalpa sampai pemberitahuan lebih lanjut, dan menyatakan pemerintah di Washington --tempat Zelaya bertemu dengan para pejabat AS-- untuk saat ini "menilai situasi".
   
Bank Dunia menyatakan akan menghentikan semua pinjaman dan bantuan kepada Honduras, yang bernilai 400 juta dollar AS "sampai ada penyelesaian krisis saat ini".
   
Lembaga lain keuangan, termasuk bank regional, juga telah memerintahkan pembekuan pinjaman dan pembayaran kepada negara miskin itu.
   
Sementara itu, negara Uni Eropa sepakat untuk tak melakukan kontak dengan para pemimpin pasca-kudeta di Honduras, sementara Prancis dan Spanyol menarik duta besar mereka.
   
Berbagai organisasi internasional menyatakan mereka menunggu hasil tindakan OAS Rabu, setelah sidang majelis umum menginstruksikan Sekretaris Jenderal Jose Miguel Insulza melakukan upaya diplomatik selama tiga hari ke depan yang akan menghasilkan pemulihan jabatan Zelaya.
   
Jika semua tindakan tersebut tak memberi hasil, Honduras akan dilarang menghadiri pertemuan OAS sejalan dengan piagam kelompok itu, demikian antara lain isi komunike OAS.
   
Ketegangan telah merebak di Honduras sejak Zelaya digulingkan dalam kudeta dukungan militer pada Ahad dan segera diterbangkan ke luar negeri tersebut. Kudeta itu adalah yang pertama di negara pengekspor kopi dan pisang tersebut dalam lebih dari 20 tahun.
   
Zelaya, yang terpilih pada 2005 untuk memangku jabatan selama empat tahun yang tak dapat diperpanjang, mengadakan pembicaraan di Washington, Rabu, dengan para pejabat AS mengenai pemulihan jabatan presidennya di negara Amerika Tengah, yang memiliki 7,5 juta warga.
   
Ia bertemu dengan para pejabat senior AS, Selasa larut malam, di sisi pertemuan OAS, termasuk dengan Wakil Menteri Luar Negeri AS Urusan Bumi Belahan Barat, Tom Shannon serta Penasehat Amerika Latin mengenai di Dewan Keamanan Nasional, serta Dan Restopo  .
   
"Shannon menyampaikan kembali komitmen AS untuk melihatkan kembalinya ke undang-undang dasar di Honduras," kata seorang pejabat AS.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau