Penyelesaian Kuala Namu Makin Tak Jelas

Kompas.com - 02/07/2009, 19:45 WIB

MEDAN, KOMPAS.com - Komitmen pemerintah pusat untuk dapat mengoperasionalkan Bandara Kuala Namu pada September mendatang diragukan. Pemerintah pusat ternyata baru mengalokasikan dana sebesar Rp 800 miliar dari kebutuhan pembangunan sisi udara sebesar Rp 1,2 triliun pada tahun 2009.

Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Riadil Akhir Lubis, jika sampai kebutuhan pembiayaan sisi udara yang memang menjadi tanggung jawab Departemen Perhubungan untuk tahun ini tak bisa dipenuhi, maka target soft opening Bandara Kuala Namu pada bulan September tak bisa terpenuhi. "Jelas tidak mungkin bisa sesuai jadwal, kalau target dana pembiayaan sisi udara untuk tahun ini tak bisa dipenuhi pemerintah," kata Riadil di Medan, Kamis (2/7).

Pemprov Sumut lanjut Riadil, berharap pemerintah serius dengan komitmennya menyelesaikan Bandara Kuala Namu tepat waktu. Memang belum ada pernyataan resmi dari pemerintah, bahwa soft opening Bandara Kuala Namu bakal tak sesuai target. "Kami sekarang terus mendorong agar dalam perubahan APBN 2009 yang sedang dibahas, pemerintah memasukkan sisa kekurangan pembiayaan sisi udara Bandara Kuala Namu sebesar Rp 400 miliar," katanya.

Riadil menyebutkan, hingga saat ini kemajuan pembangunan sisi udara Bandara Kuala Namu baru mencapai 16,79 persen. Sedangkan kemajuan pembangunan sisi darat yang menjadi tanggung jawab PT Angkasa Pura, antara lain terminal penumpang, telah mencapai 10,35 persen. Khusus untuk sisi darat, beberapa bagiannya malah telah selesai 100 persen, sisanya dalam proses tender, sehingga totalnya baru 10,35 persen, katanya.

Pembangunan sisi udara Bandara Kuala Namu baru menyelesaikan taxi way atau jalur parkir pesawat, sedangkan runway atau landas pacu bandara masih belum dapat diselesaikan. Saat ini menurut Riadil, masih terdapat masalah dalam pembangunan landas pacu, mengingat konstruksi tanahnya labil.

"Tanah landas pacu dulunya merupakan bekas rawa-rawa, sehingga harus dikeruk lagi dan diganti tanahnya agar tidak sampai amblas ketika digunakan. Memang kalau mau dipaksakan, kualitas taxi way Bandara Kuala Namu sama dengan kualitas runway Bandara Poloni a. Tetapi kan tanggung, kalau pake taxi way untuk landas pacunya," kata Riadil.

Terkait tanggung jawab pemerintah daerah dalam pembangunan Bandara Kuala Namu, Sekretaris Provinsi Sumut RE Nainggolan mengungkapkan, semua tanggung jawab pemda justru telah ditunaikan. Dia menyebut dana pembebasan lahan untuk pembangunan jal an menuju Kuala Namu telah dicairkan. "Tahun ini kami sudah mencairkan dana sebesar Rp 47 miliar dari APBD untuk pembangunan jalan tersebut. Tanah untuk jalannya pun sudah dibebaskan," katanya.

Menurut Nainggolan, jalan yang belum berstatus tersebut telah dibangun dari simpang Kayu Besar, Tanjung Morawa menuju Bandara Kuala Namu sepanjang 14,5 km. "Jalannya sudah diaspal hot mix paling tidak sepanjang 2 kilo meter. Sisanya, sudah dikeraskan karena tanahnya telah selesai dibebaskan," katanya.

Selain itu, tanggung jawab Pemprov Sumut lainnya seperti pembebasan lahan untuk rel kereta api bandara juga sudah diselesaikan. "Tanggung jawab seperti mengkoordinasikan penyediaan fasilitas air dari PDAM Tirtanadi dan listrik juga sudah kami selesaikan. Intinya, yang menjadi tanggung jawab pemda malah sudah selesai. Tinggal komitmen pemerintah pusat saja," kata Nainggolan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau