Korut Tembakkan Misil

Kompas.com - 03/07/2009, 05:28 WIB

SEOUL, KOMPAS.com - Korea Utara dilaporkan telah melakukan lagi uji coba peluru kendali atau rudalnya dengan menembakkan dua rudal jarak pendek dari permukaan ke kapal. Peluncuran kedua rudal itu dilakukan dari pangkalan rudal Korut di pantai timur negara komunis tersebut.

Informasi mengenai penembakan rudal oleh Korut itu disampaikan kantor berita Korea Selatan (Korsel) Yonhap, kemarin. Tidak dijelaskan lebih jauh bagaimana hasil dari uji coba rudal Korut tersebut.

”Yang pertama diluncurkan pada 17:20 dan lainnya pada 18.00 dari Sinsang-ni, dekat kota di pantai timur, Wonsan,” tutur juru bicara kementerian pertahanan Korsel, Won Tae-jae.

Peluncuran rudal Korut itu sudah diperkirakan sebelumnya. Pemerintah Korut, menurut seorang perwira komunikasi militer AS, mengeluarkan peringatan kepada para pelaut untuk menghindari kawasan di sekitar Laut Jepang pada jam-jam tertentu, antara 24 Juni dan 9 Juli, karena akan ada ”latihan penembakan militer”.

Penembakan rudal-rudal itu menegaskan, perlawanan Korut atas sanksi-sanksi yang dikenakan kepada negara komunis itu melalui Dewan Keamanan PBB.

Sumber pertahanan Korsel menyebutkan, rudal-rudal Korut KN-1 itu terbang sejauh sekitar 100 kilometer dan kemudian jatuh ke laut. Rudal itu diyakini memiliki daya jelajah 160 km.

Surat Kabar Korsel Jongang Ilbo mengatakan, Korut kemungkinan juga akan melakukan uji coba penembakan rudal-rudal jarak menengahnya dalam beberapa hari ke depan.

Penerapan sanksi

Penembakan rudal itu dilakukan bersamaan dengan upaya AS untuk meminta dukungan China, dalam penerapan sanksi-sanksi PBB terhadap Korut. Kemarin, Philip Goldberg yang ditugasi mengoordinasikan penerapan sanksi-sanksi terhadap Korut bertemu dengan beberapa pejabat China di Beijing.

Adapun Pemerintah China, kemarin, mengatakan, telah mengirimkan utusannya ke empat negara yang terlibat dalam perundingan enam pihak untuk mengakhiri ambisi nuklir Korut. Korut tidak masuk dalam daftar negara yang akan dikunjungi utusan China itu.

Korut dikenai sanksi PBB yang lebih keras menyusul uji coba nuklir pada 25 Mei lalu. Beberapa pengamat mengatakan, penegakan sanksi-sanksi itu ditujukan untuk menghentikan perdagangan senjata Korut, akan banyak tergantung pada China yang merupakan mitra dagang terdekat Korut.

Korut kemungkinan akan menembakkan rudal Scud-B yang memiliki jarak jelajah 340 km, atau rudal Rodong-1 yang memiliki daya jelajah 1.300 km dari pangkalan militer Gitsaerung di Provinsi Kangwon. Peluncuran rudal-rudal darat ke kapal itu mungkin juga dilakukan dari sebuah basis di selatan Provinsi Hamgyung.

Peluncuran baru rudal-rudal Korut itu semakin meningkatkan ketegangan di semenanjung Korea, dan Asia Timur pada umumnya. Beberapa media melaporkan, peluncuran rudal-rudal Korut kemungkinan dilakukan pada 4 Juli, bertepatan dengan hari kemerdekaan AS. Pada tahun 2006, Korut melakukan uji coba rudal jarak jauh pada tanggal bersejarah bagi AS itu.

Beberapa pejabat AS dan Korsel meyakini, pemimpin Korut Kim Jong-Il (67), yang tengah sakit, sengaja menggelar penembakan rudal itu untuk unjuk kekuatan, serta mempertegas otoritasnya, di saat dia berusaha memuluskan rencana suksesi yang melibatkan anak lelaki bungsunya.

Media Jepang beberapa waktu lalu juga berspekulasi mengenai kemungkinan Korut menembakkan rudal jarak jauh pada 4 Juli ke arah kepulauan Hawaii. Atas pemberitaan itu, Pemerintah AS pun langsung menyiagakan pasukannya di sekitar Hawaii, bahkan menempatkan sistem rudal penangkis di sana. Meski demikian, beberapa sumber militer AS dan Korsel tidak melihat adanya persiapan Korut untuk menembakkan rudal jarak jauhnya.
(AP/AFP/Reuters/OKI)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau