JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia memperoleh tambahan cadangan devisa siaga dalam bentuk yen Jepang. Ini akan menambah cadangan devisa yang sebelumnya sudah ditandatangani antara pemerintah Indonesia dan Jepang, yakni sebesar 12 miliar dollar AS. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu mengungkapkan hal itu di Jakarta, Kamis (2/7). Perjanjian tukar-menukar valuta asing secara bilateral (bilateral swap arrangement/BSA) terdahulu yang telah dilakukan dengan Jepang hanya memberikan tambahan cadangan devisa dalam bentuk dollar AS. Adapun tambahan BSA yang akan ditandatangani Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Tokyo, Jepang, pada 6 Juli 2009, akan meningkatkan cadangan devisa dalam bentuk yen. ”Ini memperkuat pertahanan Indonesia meskipun krisis sudah tidak terlalu menekan,” ujarnya. Indonesia membutuhkan mata uang yen relatif tinggi karena posisi utang pemerintah yang diperoleh dalam bentuk yen termasuk tertinggi dalam portofolio pinjaman. Data Depkeu menunjukkan, pinjaman pemerintah dalam bentuk yen mencapai 20 persen dari total utang yang mencapai Rp 1.700 triliun.
Selama ini, Indonesia harus mengonversikan rupiah terhadap dollar AS lebih dahulu, sebelum kemudian mengonversikannya ke yen, saat mencicil utang ke Jepang. Ini merugikan karena harus melalui dua nilai tukar yang memungkinkan kenaikan ongkos pembayaran utang pemerintah.