JAKARTA, KOMPAS.com — Masa kampanye pemilu presiden sudah memasuki garis finis 4 Juli besok. Masyarakat sudah disuguhi berbagai 'atraksi' kampanye, mulai dari orasi sampai iklan politik. Berkaca pada pemilu legislatif lalu, iklan politik cukup berpengaruh pada preferensi pemilih. Iklan seperti apa yang efektif mempersuasi?
Pakar marketing politik Universitas Indonesia, Firmanzah, mengatakan, ada beberapa tipe iklan kampanye. Dua di antaranya yang dijumpai di Indonesia adalah iklan kampanye bermodel menyerang dan menyegarkan alias ada unsur humorisnya.
"Nah, untuk masyarakat kita yang haus hiburan, iklan yang efektif adalah iklan yang humoris, tidak membuat sesuatu yang menakutkan," kata Firmanzah, pada diskusi "Mencermati janji, iklan, dan peluang para capres", di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (3/7).
Menyaksikan iklan-iklan humoris yang menyegarkan, menurutnya, memberikan pelarian bagi beban hidup masyarakat sehari-sehari. "Jadi buat saja iklan yang sederhana, humoris, menyegarkan," ujarnya.
Bedah iklan capres
Dari tiga pasangan capres dan cawapres, menurut Firmanzah, iklan kampanye capres Golkar-Hanura, JK-Wiranto, dinilai paling efektif. Iklan-iklan yang ditayangkan, menurutnya, cukup menghibur.
"Iklan Pak JK itu kan bisa dibilang lucu, menghibur. Kalau iklan Pak SBY dengan lagu Indomie itu, akrab tapi tidak lucu. Saya memprediksi minat terhadap JK naik karena dianggap lucu, humoris, dan masyarakat kita senang melihat seperti itu," katanya.
Sementara iklan-iklan yang memaparkan data utang luar negeri atau tingkat inflasi, seperti model iklan Mega-Prabowo, dinilai Firmanzah justru memberikan kesan sesuatu yang menakutkan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang