BI Berniat Mendorong Kredit

Kompas.com - 04/07/2009, 04:54 WIB

 

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Mencermati perekonomian domestik dan global hingga akhir semester I 2009, Bank Indonesia optimistis prospek ekonomi hingga akhir 2009 akan lebih baik dari perkiraan semula.

Guna mendorong perekonomian semakin baik, BI, Jumat (3/7), menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) 25 basis poin menjadi 6,75 persen. Langkah ini untuk mempercepat penyaluran kredit.

Dengan penurunan BI Rate yang terus-menerus sejak Desember 2008, BI memberi sinyal bahwa kondisi perekonomian ke depan amat kondusif bagi kegiatan sektor riil. BI Rate yang rendah juga pada akhirnya akan menekan bunga kredit.

”Perkembangan ekonomi sudah menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Negara lain juga sudah ada perbaikan,” kata Pejabat Sementara Gubernur BI Miranda S Goeltom saat memaparkan hasil evaluasi perekonomian oleh Rapat Dewan Gubernur BI, Jumat, di Jakarta.

Kontraksi laju ekonomi, yang semula diperkirakan terus berlangsung hingga akhir 2009, diyakini telah berhenti pada akhir semester I 2009. Selanjutnya, pada semester II 2009, laju perekonomian domestik akan memasuki fase stabil untuk kemudian terakselerasi mulai 2010.

Dengan perkembangan tersebut, BI pun sedikit merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun 2009 dari semula kecenderungan 3,75 persen menjadi kecenderungan 4 persen.

Pada triwulan I-2009, perekonomian Indonesia tumbuh 4,4 persen secara setahunan (year on year), terkontraksi signifikan dari tahun 2008 sebesar 6,1 persen. Pada triwulan II-2009, laju ekonomi kembali terkontraksi menjadi 3,8 persen.

Namun, BI optimistis tak akan lagi terjadi kontraksi pertumbuhan pada triwulan III dan IV 2009. Selama semester II 2009, ekonomi Indonesia diperkirakan bakal stabil. Kinerja ekspor diperkirakan juga membaik meskipun masih dalam zona negatif.

Berhentinya kontraksi laju ekonomi salah satunya tertolong oleh pengeluaran pemilu yang cukup besar. Pengeluaran untuk pemilu presiden diperkirakan sanggup menjaga pertumbuhan konsumsi rumah tangga tetap tinggi, mencapai 4,5 persen.

Tetap tingginya konsumsi rumah tangga juga ditopang oleh inflasi yang amat rendah, yang mencerminkan kestabilan harga.

Jika stimulus moneter dan fiskal dapat ditingkatkan serta lancar dan efektif, pertumbuhan ekonomi semakin baik.

Namun, BI juga mengkhawatirkan masih rendahnya penyaluran kredit perbankan karena itu berarti akan mengurangi potensi pembiayaan untuk menumbuhkan ekonomi, baik dari segi konsumsi maupun investasi.

Penyaluran kredit perbankan per Mei 2009 masih mencatat kontraksi 1,1 persen. Seretnya penyaluran kredit diperparah masih tingginya bunga kredit yang membuat perusahaan dan masyarakat enggan meminjam.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Mirza Adityaswara mengatakan, saat ini pelaku usaha hanya menunggu rampungnya pemilu presiden. ”Setelah pilpres selesai, pengusaha akan melakukan ekspansi usaha,” kata Mirza.

Dari sinilah perekonomian akan kembali bergerak. Untuk ekspansi, perusahaan membutuhkan dana sehingga mengajukan kredit ke bank. Seiring dengan menurunnya risiko sektor riil, bank pun akan menurunkan bunga kredit. (FAJ)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau