Kemarau, Krisis Air Bersih Terjang Cilacap Selatan

Kompas.com - 05/07/2009, 18:33 WIB

CILACAP, KOMPAS.com - Sejumlah kecamatan di wilayah Kabupaten Cilacap mulai mengalami kekeringan. Selain menyebabkan banyak lahan padi yang baru memulai masa tanam kekurangan air, warga di sejumlah desa kesulitan air bersih.

Di Desa Ujung Gagak, Kecamatan Kam pung Laut, sebanyak 400 keluarga mengalami kesulitan air. Untuk kebutuhan air bersih, seperti sebagian besar wilayah di Kampung Laut lainnya, warga Desa Ujung Gagak mengandalkan air hujan untuk keperluan air bersih. Tiadanya hujan pada masa kemarau ini me mbuat mereka kehilangan sumber air utama itu.

Warga di desa tersebut kini hanya dapat mengandalkan air dari mata air di Pulau Nusakambangan. Mereka membeli dari pemilik perahu yang biasa mengangkut air dengan perahu. Namun, kapasitas air yang dibawa kuran g memadai dibanding jumlah keluarga yang memerlukan air bersih.

"Sampai saat ini ke desa kami belum ada saluran air PDAM. Jadi, kalau tak ada hujan yang warga membeli air dari Nusakambangan. Rencananya kami akan meminta bantuan ke PDAM," ujar Kepala Desa Ujung Gagak, Sutono, Minggu (5/7).

Di wilayah Kecamatan Kampung Laut terdapat empat desa, yakni Panikel, Ujung Gagak, Ujung Alang, dan Klaces. Pada musim penghujan, mereka memanfaatkan air hujan sebagai air bersih dengan cara mengalirkannya ke bak penampungan.

Pada musim kemarau, sekitar 3.816 keluarga di kecamatan ini mengandalkan suplai air bersih dari Nusakambangan yang disalurkan melalui pipa. Namun, sejak setahun terakhir, pipa saluran air bersih itu bocor dan rusak karena kerap terkena rob. Selai n dari Nusakambangan, sebagian warga mengambil air sumber air Jongor Asu dan Karangbrajan.

Selain air bersih, petani di Kampung Laut pun kesulitan air irigasi. Akibatnya, mereka tak bisa tanam padi pada masa tanam kedua ini. Sekitar 1.500 hektar lahan padi di wilayah tersebut nganggur.

Ketua Serikat Tani Merdeka Cilacap, Petrus Sugeng, mengungkapkan, ada ratusan lahan padi di wilayah Kawunganten dan Kampung Laut yang terancam puso karena kekurangan air. Padi-padi tersebut rata-rata ditanam sejak sebulan lalu dan masih membutuhkan air. "Tapi, tanah-tanah sudah mulai merekah karena kekeringan. Irigasi teknis sampai sekarang belum ada. Yang paling parah ada di Desa Bojong, Kecamatan Kawunganten, di mana hampir semuanya puso," tutur Sugeng.

Dia berharap pemerintah memperhatikan masalah ini. Hampir setiap tahun, lahan pertanian di Kawunganten, Kampung Laut, Gandrungmangu, dan Patimuan, Cilacap kekeringan. "Seharusnya pemerintah membangun irigasi teknis untuk pertanian di wilayah ini," tandas dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau