Tim Piala Davis Berangkat ke Selandia baru

Kompas.com - 05/07/2009, 19:52 WIB

JAKARTA, Kompas.com - Tim Piala Davis Indonesia akan berangkat ke Hamilton, Selandia Baru, Senin (6/7) sore, untuk bertanding di babak kualifikasi grup II Asia Oceania Piala Davis melawan tim tuan rumah.
    
Ketua Bidang Pertandingan PB Pelti, Johannes Suseno, di Jakarta, Minggu, mengatakan, tim Piala Davis Indonesia yakni Christopher Rungkat, Nesa Artha, Sunu Wahyu Trijati, dan Ayrton Wibowo, didampingi pelatih Robert Davis (AS) dan kapten tidak bermain Surya Wijaya. Rombongan dipimpin oleh manajer tim Diko Murdono Krisno. "Ketua Umum PB Pelti Martina Widjaya dan Sekjen PB Pelti Soebronto Laras juga ikut mengantarkan tim Piala Davis ke Selandia Baru," katanya.
   
Menurut dia, berdasarkan informasi yang diterima PB Pelti pertandingan akan berlangsung pada 10-12 Juli di Hamilton, sehingga masih ada waktu empat hari untuk menyesuaikan diri dengan kondisi di Hamilton.

Dikatakannya, beberapa hal yang menjadi perhatian tim Piala Davis Indonesia adalah materi pemain Selandia Baru yang peringkatnya jauh lebih tinggi dari peringkat tim Piala Davis Indonesia serta temperatur udara yang dingin.

Tim Piala Davis Selandia baru peringkatnya di ATP sekitar 400 hingga 300, sedangkan tim Piala Davis Indonesia Christoper peringkatnya di ATP sekitar 1.200 dan Ayrton Sena sekitar 1.400. Bahkan, Sunu Wahyu dan Nesa Artha belum memiliki peringkat ATP.
   
Persoalan lainnya, kata dia, saat ini di Selandia Baru sedang musim dingin, di Hamilton pada siang hari temperaturnya 10 derajat dan malam malam hari hanya dua derajat. "Anggota tim Piala Davis Indonesia memerlukan adaptasi untuk mengatasi temperatur yang dingin," katanya.

Anggota tim Piala Davis, Christoper mengatakan, ia dan teman-temannya akan tampil maksimal menghadapi tim Selandia Baru, meskipun peringkatnya lebih tinggi. "Kami akan main maksimal dan tanpa beban, karena peringkat kami lebih rendah. Soal peluang, saya kira fifty-fifty," katanya.

Menurut Christo, dalam pertandingan beregu peringkat tidak terlalu menentukan, tapi kemampuan teknis, kesiapan mental dan fisik yang lebih menentukan.

Setelah mengikuti turnamen Piala Alfamart PON Tenis 2009 yang diselenggarakan di stadion tenis Senayan Jakarta, pada 27 Juni hingga 5 Mei, Christo merasa lebih siap tampil di Piala Davis.

Menurut dia, penampilannya di turnamen tenis tersebut bisa menjadi indikator staminanya serta lawan-lawan yang dihadapinya bisa menjadi "sparring partner" menjelang pertandingan di Piala Davis.

Dikatakannya, sebelum berangkat ke Selandia Baru, tim Piala Davis Indonesia sudah menjalani pemusatan latihan selama hampir dua bulan di Ragunan Jakarta.     Pada pemusatan latihan tersebut diberikan pelatihan kemampuan teknis, strategis, maupun fisik.  "Hasil dari pemusataan tersebut diujicoba di PON Tenis 2009," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau