TEGUCIGALPA, KOMPAS.com — Presiden tersingkir, Manuel Zelaya, tidak dapat mendarat dengan pesawat yang ditumpanginya di bandara utama Honduras, Minggu (5/7), akibat landasan pesawat dihadang sejumlah kendaraan tempur serta tentara. Sebagian tentara di antaranya terlibat bentrokan dengan kerumunan massa pendukung Zelaya di luar bandara.
Pilot pesawat akhirnya memutuskan untuk tidak mengambil risiko setelah terbang mengitari bandara. Pesawat akhirnya didaratkan di Nikaragua.
Zelaya yang berada dalam perjalanan menuju El Salvador berjanji untuk kembali berada di Honduras pada Senin atau Selasa guna merebut kembali kekuasaannya. Ambisi itu ditunjukkannya meskipun segenap jajaran pemerintah di Honduras menentangnya.
"Saya panglima tertinggi angkatan bersenjata, dipilih oleh rakyat dan saya memerintahkan angkatan bersenjata untuk patuh pada peraturan sehingga tidak ada hambatan bagi saya untuk mendarat dan menemui rakyat saya," kata Zelaya dari pesawatnya. Namun, pejabat presiden Roberto Micheletti bersikeras tidak akan bernegosiasi, dalam hal ini sampai "kondisi politik kembali stabil."
Pemerintah baru Honduras berjanji meringkus Zelaya dengan jeratan 18 dugaan tindak kriminal termasuk penghianatan dan kegagalan menerapkan lebih dari 80 undang-undang yang disepakati Kongres sejak menjabat pada 2006. Zelaya juga menolak mematuhi keputusan Mahkamah Agung yang menentang rencananya menggelar referendum guna memutuskan sidang pertimbangan perubahan konstitusi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang