Biar Saling Sikut, Tetap Optimistis

Kompas.com - 06/07/2009, 11:46 WIB

KOMPAS.com - Meski krisis juga menghantam usaha mereka, pengusaha pakaian anak-anak di Kalibata Pulo tetap yakin menjalankan usaha mereka. Mereka yakin, tetap ada celah pasar buat produk mereka sepanjang mereka pintar memanfaatkan tren. Hari raya-hari raya besar yang waktunya tidak lagi berdekatan jadi peluang bagi mereka mendongkrak penjualan.

Meski krisis terus menggempur bisnis mereka, sorot mata para pemilik usaha konveksi rumahan pakaian anak-anak di Kalibata Pulo, Pancoran, Jakarta Selatan, tetap menyiratkan keyakinan akan prospek usahanya. Maklum, ini adalah bisnis yang mereka warisi turun temurun dan telah berusia puluhan tahun, sehingga telah teruji melewati berbagai gelombang dan krisis.

Salah satunya adalah Haji Jamaludin. Pengusaha asli Betawi ini sudah lebih dari 20 tahun bergelut dalam bisnis pakaian anak-anak. Asam garam maupun suka duka bisnis ini sudah cukup kenyang ia rasakan.

Pemilik produk pakaian dengan label Tiara yakin, bisnisnya bakal bisa bertahan dari belitan krisis ini. "Bisa dilihat dari jumlah hari raya besar yang jatuh dalam kurun waktu berbeda," ujarnya. Bagi pengusaha konveksi di Kalibata Pulo, hari raya yang merudi masa panen raya bagi mereka adalah Lebaran, hari raya Kurban, Natal, dan tahun baru. "Tahun ini kebetulan waktunya tak bersamaan, beda dengan tahun lalu yang berbarengan. Jadi kita bisa manfaatkan itu untuk mendongkrak penjualan," ujar Jamaludin.

Selain itu, untuk bertahan pemilik usaha juga harus jeli melihat peluang dan pintar membaca tren mode. "Kita harus pintar membuat desain mana yang kira-kira lagi booming," ujar Haji Ali Umar, salah satu pengusaha pakaian anak di Kalibata Pulo.

Jika meleset dari tren, pakaian yang mereka buat tidak laku di pasaran. "Biar kreatif, kita juga harus melihat contoh di majalah, tinggal kita gambar sendiri desainnya dan langsung dibuat," imbuh Jamaludin.

Mengetahui karakter segmen pasar, juga membantu memperlancar pemasaran produk mereka. Karena pangsa pasar pakaian anakanak di Kalibata Pulo adalah kalangan menengah bawah, tak heran jika para pengusaha konveksi di kawasan ini memilih model pakaian yang ramai, dihiasi berbagai aksesori, dan warna-warna cerah. "Kalau bajunya polospolos gitu kagak laku. Coba dikasih pita sedikit, laku deh," kata Jamaludin.

Para pengusaha konveksi rumahan di kawasan ini sempat ingin menjadikan daerah Kalibata Pulo menjadi sentra, semacam di Cibaduyut. Untuk itu, tahun 2000 lalu mereka sempat mengadakan bazar di sepanjang jalan Buncit Raya, yang diikuti seluruh industri rumahan di Kalibata Pulo. Hasilnya laris manis. "Bang Yos sampai melihat besarnya potensi kita," ajar Jamaludin.

Namun karena pengelolaan yang tidak baik, acara itu hanya berlangsung sekali saja, dan ide menjadi sentra pun menguap begitu saja.

Permasalahan ternyata tidak hanya itu saja. Pembuatan wadah koperasi yang diprakarsai Pemprov DKI Jakarta tidak jalan. Ada persaingan tidak sehat di antara pelaku usaha. Mereka saling membanting harga boju-baju buatan mereka. Hal serupa juga dilakukan pengurus koperasi yang notabene bukan berasal dari warga setempat. Alhasil, "Warga jadi tidak percaya sama koperasi," ujar Haji Jamaludin.

Toh, berbagai hambatan tak menghalangi asa pemilik usaha untuk terus bertahan dan berjuang agar lebih maju lagi. Maklum, dari penghasilan usaha inilah rata-rata pengusaha Betawi ini bisa menyandang gelar haji. (Yudho Winarto/Kontan)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau