Pendukung SBY-Boediono: Mega-Pro dan JK-Win "Childish"

Kompas.com - 06/07/2009, 13:36 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Langkah pasangan calon presiden-calon wakil presiden Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto dan M Jusuf Kalla-Wiranto yang meminta Komisi Pemilihan Umum menunda penyelenggaraan Pemilu Presiden 2009 jika masalah daftar pemilih tetap (DPT) belum selesai dalam tempo 1 x 24 jam dinilai sebagai sikap yang kekanak-kanakan dan picik.

Ketua Umum DPP Komite 33 Dicky Arianto, sebuah organisasi sayap pendukung pasangan capres-cawapres Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, mengatakan, motivasi kedua pasangan tersebut menekan KPU adalah kekhawatiran kalah pada pilpres.

"Jadi, mereka terus-menerus mencari celah agar pilpres gagal. Ini menunjukkan kepicikan dan sifat childish mereka," tuding Dicky pada jumpa pers, Senin (6/7) di Jakarta.

Dicky juga menilai, manuver mereka merusak ketenangan masa tenang hingga tanggal 8 Juli mendatang. Sementara itu, Ketua Dewan Pembina DPP Komite 33 Jemmy Setiawan mengatakan, kisruh DPT bukan hanya tanggung jawab KPU, tetapi juga seluruh partai politik peserta pilpres.

"Partai politik memiliki instrumen hingga cabang ranting. Mereka juga seharusnya proaktif memerhatikan konstituen mereka sejak pembukaan pendaftaran DPT," tukas Jemmy.

Menurut Jemmy, pilpres harus tetap dilaksanakan pada tanggal 8 Juli mendatang. Penundaan pilpres hanya akan menciptakan efek domino, seperti tercederainya komunikasi, hilangnya kepercayaan internasional, serta biaya penyelenggaraan pilpres yang membengkak.

"Basi jika mereka meminta penundaan pilpres demi rakyat. Penundaan pilpres membuat anggaran pilpres membengkak. Padahal, anggaran pilpres diambil dari pajak rakyat," ujarnya.

Ada yang unik pada konferensi pers hari ini. Sepanjang konferensi pers, Jemmy berkali-kali keserimpet menyebut DPT sebagai DCT (daftar calon tetap). Padahal, kedua istilah tersebut memiliki makna yang berbeda. DCT berisikan nama-nama calon anggota legislatif yang lolos syarat administratif pada Pemilu Legislatif 2009. Hingga di penghujung acara, Jemmy tetap menyebut DCT walaupun telah dikoreksi berkali-kali oleh rekannya, Dicky.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau