JAKARTA, KOMPAS.com — Langkah pasangan calon presiden-calon wakil presiden Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto dan M Jusuf Kalla-Wiranto yang meminta Komisi Pemilihan Umum menunda penyelenggaraan Pemilu Presiden 2009 jika masalah daftar pemilih tetap (DPT) belum selesai dalam tempo 1 x 24 jam dinilai sebagai sikap yang kekanak-kanakan dan picik.
Ketua Umum DPP Komite 33 Dicky Arianto, sebuah organisasi sayap pendukung pasangan capres-cawapres Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, mengatakan, motivasi kedua pasangan tersebut menekan KPU adalah kekhawatiran kalah pada pilpres.
"Jadi, mereka terus-menerus mencari celah agar pilpres gagal. Ini menunjukkan kepicikan dan sifat childish mereka," tuding Dicky pada jumpa pers, Senin (6/7) di Jakarta.
Dicky juga menilai, manuver mereka merusak ketenangan masa tenang hingga tanggal 8 Juli mendatang. Sementara itu, Ketua Dewan Pembina DPP Komite 33 Jemmy Setiawan mengatakan, kisruh DPT bukan hanya tanggung jawab KPU, tetapi juga seluruh partai politik peserta pilpres.
"Partai politik memiliki instrumen hingga cabang ranting. Mereka juga seharusnya proaktif memerhatikan konstituen mereka sejak pembukaan pendaftaran DPT," tukas Jemmy.
Menurut Jemmy, pilpres harus tetap dilaksanakan pada tanggal 8 Juli mendatang. Penundaan pilpres hanya akan menciptakan efek domino, seperti tercederainya komunikasi, hilangnya kepercayaan internasional, serta biaya penyelenggaraan pilpres yang membengkak.
"Basi jika mereka meminta penundaan pilpres demi rakyat. Penundaan pilpres membuat anggaran pilpres membengkak. Padahal, anggaran pilpres diambil dari pajak rakyat," ujarnya.
Ada yang unik pada konferensi pers hari ini. Sepanjang konferensi pers, Jemmy berkali-kali keserimpet menyebut DPT sebagai DCT (daftar calon tetap). Padahal, kedua istilah tersebut memiliki makna yang berbeda. DCT berisikan nama-nama calon anggota legislatif yang lolos syarat administratif pada Pemilu Legislatif 2009. Hingga di penghujung acara, Jemmy tetap menyebut DCT walaupun telah dikoreksi berkali-kali oleh rekannya, Dicky.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang