Peta Jalan Reformasi Kesehatan Perlu Dirumuskan

Kompas.com - 06/07/2009, 17:10 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sektor kesehatan Indonesia masih tertinggal dari negara-negara berkembang di Asia seperti Vietnam dan Laos, dalam hal investasi publik serta akses pelayanan kesehatan yang terjangkau masyarakat luas. Karena itu, peta jalan reformasi kesehatan perlu disusun.

Demikian benang merah diskusi yang diprakarsai Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia, di Jakarta Senin (6/7), di Hotel Atlet Century Park Jakarta.

Direktur Eksekutif CSIS Rizal Sukma mengatakan, perlu ada roadmap yang komprehensif untuk membawa perubahan di sektor kesehatan Indonesia. Keberadaan roadmap yang komprehensif sangat mendesak mengingat tantangan yang dihadapi sektor kesehatan nasional sangat kompleks.

Selain itu, perlu ada keterlibatan aktif dari berbagai pemangku kepentingan di sektor kesehatan seperti pemerintah, industri, analis, praktisi dan asosiasi. Proses selanjutnya dari perumusan roadmap ini CSIS akan menjadwalkan sejumlah pertemuan kelompok kerja yang melibatkan semua pemangku kepentingan di sektor kesehatan nasional hingga Oktober 2009 nanti.

Belum efisien

"Sistem pelayanan kesehatan di Indonesia belum efisien karena mahal dan belum memberi hasil optimal," kata ahli kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia Prof Hasbullah Thabrany.

Karena itu, perlu roadmap yang memandu kebijakan untuk penyediaan akses layanan kesehatan bermutu dan terjangkau, serta mempromosikan pola hidup sehat. Sejauh ini, pemerintah telah merumuskan kerangka strategis baru di sektor kesehatan publik. Akan tetapi, upaya itu belum menghasilkan kerangka kebijakan yang berkesinambungan, menyeluruh, inklusif, dan dapat dilaksanakan untuk meningkatkan sistem kesehatan Indonesia.

Saat ini 70 persen penduduk pedesaan Indonesia menghadapi keterbatasan akses untuk mendapat layanan kesehatan dan informasi layanan kesehatan. Lebih dari setengah penduduk Indonesia atau sekitar 124 juta orang tidak memiliki jaminan kesehatan, dan lebih dari satu juta penduduk memilih untuk berobat ke luar negeri.

Selain itu, Indonesia memiliki angka kematian ibu tertinggi di Asia Tenggara, dengan perkiraan 19.000 kematian setiap tahun. Di sisi lain, hanya 15 persen dari dokter di Indonesia memiliki spesialisasi. Lebih jauh lagi, status kesehatan di Indonesia masih termasuk yang terendah di wilayah Asia Pasifik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau