Divestasi Newmont, Pemkab Sumbawa Barat Gandeng Swasta

Kompas.com - 06/07/2009, 17:29 WIB

MATARAM, KOMPAS.com- Bupati Sumbawa Barat KH Zulkifli Muhadli mengakui, PT Daerah Maju Bersaing (DMB) hanya punya modal awal Rp 2 miliar untuk mengakuisisi 10 persen saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT). PT DMB adalah perusahaan bersama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Kabupaten Sumbawa, dan Sumbawa Barat.

"Memang hanya Rp 2 miliar modal awal untuk PT DMB, namun perusahaan bersama itu akan mengupayakan jalinan kerja sama dengan investor yang berminat mengakuisisi 10 persen saham Newmont itu," kata Muhadli yang didampingi Direktur Utama PT DMB, Andi Hadiyanto, saat menghadiri peluncuran Visit Lombok Sumbawa (VLS) 2012, di kawasan wisata Senggigi, Kabupaten Lombok Barat, Senin (6/7). 

Keduanya mengakui, hingga kini sudah ada lima investor yang berminat menjadi mitra PT DMB untuk membeli sebagian saham perusahaan pertambangan PT NNT. Kelima investor itu yakni Falco Corporation PLc, Amstelco PLc Ltd,  PT Multicapital, Media Group, dan PT Sinar Tambora Rinjani (STR).

Pekan lalu, tiga perusahaan swasta nasional yakni Falco Corporation PLc, Amstelco PLc Ltd, dan PT Multicapital sudah mempresentasikan minatnya itu di hadapan Gubernur NTB, Bupati Sumbawa, dan Bupati Sumbawa Barat.

Sementara dua perusahaan lainnya, yakni Media Group dan PT Sinar Tambora Rinjani (STR), baru mempresentasikan minatnya mendanai pembelian sebagian saham Newmont itu pada Senin (6/7) ini.

Media Group telah menyampaikan pemberitahuan resmi kepada Pemprov NTB terkait minat pembelian saham Newmont itu. Dalam dokumen pemberitahuan resmi itu Media Group yang memiliki pengalaman di bidang pertambangan menyatakan kesediaannya untuk mempresentasikan minatnya itu di hadapan kepala daerah di NTB.

Pemilik Media Group atau kelompok usaha media di Indonesia itu juga memiliki perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan yakni PT Surya Energi Raya (SER). Perusahaan ini merupakan investor mitra Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, yakni PT Asri Dharma Sejahtera (ADS) dalam pengelolaan "Participating Interest" (PI) tambang minyak Blok Cepu.

Sedangkan, investor lokal di wilayah NTB yakni PT Sinar Tambora Rinjani (STR) juga telah menyampaikan kesediaannya untuk mempresentasikan minatnya membeli sebagian saham Newmont itu, dan manajemen PT DMB tengah menunggu presentasi itu.

Rencana pembelian sebagian saham yang menjadi hak daerah dan akan didivestasi oleh PT NNT itu merupakan tindak lanjut dari putusan arbitrase internasional tertanggal 31 Maret 2009 yang memenangkan sebagian gugatan Pemerintah Indonesia atas PT NNT.

Putusan arbitrase itu mengharuskan PT NNT mendivestasi 17 persen sahamnya kepada pihak nasional Indonesia dalam waktu 180 hari sejak putusan arbitrase dikeluarkan, jika tidak maka pemerintah bisa mencabut kontrak karyanya.

Dari 17 persen saham yang harus segera didivestasi itu, 10 persen diantaranya merupakan hak pemerintah daerah yakni tiga persen hak Pemerintah KSB dan tujuh persen lainnya hak Pemerintah Provinsi NTB dan Kabupaten Sumbawa.

Tujuh persen saham lainnya yang juga akan segera didivestasi itu merupakan hak pemerintah pusat atau nasional Indonesia. Saham divestasi yang menjadi hak pemerintah daerah itu terdiri dari tiga persen saham pada 2006 senilai 109 juta dolar AS atau 36,3 juta dolar AS per satu persen saham dan tujuh persen saham pada 2007 senilai 282 juta dolar AS atau 40,3 juta dolar AS per satu persen saham, sehingga totalnya mencapai 391 juta dolar AS.  

Harga saham yang menjadi hak nasional Indonesia belum mencapai kata sepakat karena pihak pembeli mematok harga rendah sesuai perkembangan terkini sementara Newmont bertahan dengan patokan harganya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau