Mes pemain Persis Solo di selatan Stadion R Maladi, Sriwedari, Solo, kosong melompong, Senin (6/7). Padahal, masa kontrak pemain baru selesai 21 Juli mendatang. Seluruh pemain pulang kampung atas seizin manajemen sejak pertengahan Juni lalu. Saat itu, Persis sudah menyelesaikan kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia, sementara di kompetisi Copa Dji Sam Soe sejak awal Persis tersingkir.
Pemain tidak kuat membiayai kebutuhan sehari-hari, mereka karena sisa tujuh bulan gaji yang belum dibayar, baru dibayarkan 30 persennya. Ketidakmampuan membayar gaji pemain ini adalah satu contoh ketidakmampuan klub sepak bola menggali dana sendiri setelah regulasi melarang penggunaan APBD untuk klub profesional.
Entah bagaimana, terdapat alokasi dana hibah Rp 4,8 miliar untuk Persis Solo yang dimasukkan dalam anggaran Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Solo. Padahal, Persis bukan bagian olahraga yang ditangani KONI. Sebagian kecil dana itu untuk pembinaan pemain junior dan membiayai keikutsertaannya di Piala Suratin. Sisanya untuk membiayai pemain senior dan keikutsertaan di kompetisi Divisi Utama dan Copa serta membayar utang pada musim kompetisi sebelumnya.
"Persis tanpa APBD tidak akan berjalan. Kalau kemudian tidak dapat APBD, kami serahkan kepada masyarakat bagaimana kelanjutan Persis," kata Ketua Umum Persis Solo FX Hadi Rudyatmo yang juga Wakil Wali Kota Solo.
Namun, dia memastikan Persis Solo akan tetap mengikuti kompetisi di musim baru ini. "Dananya, nanti dipikirkan setelah pilpres dan Porprov," kata Rudy, panggilan Hadi Rudyatmo yang juga Ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Kota Solo.
Rudy mengaku tidak tahu apakah Persis akan mendapat dana dari APBD atau tidak pada perubahan APBD tahun ini dan di tahun anggaran 2010. Untuk menekan pengeluaran, Rudy mengatakan, akan menggunakan pemain yang seluruhnya lokal dengan sifat pembinaan.
"Jadi seperti pemain amatir, kalau mereka setuju silakan bergabung dengan kami. Jika tidak, kami cari pemain lain yang mau dengan pendekatan pembinaan bukan kontrak pemain profesional," kata Rudy.
Sebenarnya, Persis pernah melakukan terobosan dengan menggandeng penyelenggara acara dengan menggelar konser musik Agnes Monica. Namun dari pemasukan tiket Rp 411,8 juta, tidak sampai separuhnya yang masuk ke kocek Persis. Jumlah itu hanya cukup untuk membayar kebutuhan dua kali akomodasi pertandingan.
Pada tahun 2007, Persis mendapat dana APBD Rp 10,5 miliar dari pengajuan dana Rp 19 miliar. Saat itu, Persis Solo baru saja mendapat promosi masuk Divisi Utama. Pada tahun 2008, Persis mendapat dana hibah APBD Rp 4,8 miliar yang digunakan untuk membiayai kompetisi yang berakhir di pertengahan 2009. Persis yang sempat terancam degradasi pada akhir musim bertengger di posisi 10.
Rudy mengatakan, dia akan mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat di Kota Solo untuk urun rembug guna mencari solusi bagi pendanaan Persis Solo. Selama ini keinginan ini belum sempat terlaksana. Dia mengakui, penyelenggaraan konser sebenarnya dapat menjadi solusi cukup baik untuk pendanaan klub. Namun, dia mengatakan agar pengelolaannya dilakukan lebih baik lagi sehingga tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari.
Kebutuhan klub yang sangat besar, menurut mantan Manajer Persis Solo Sumartono, menyebabkan manajemen sulit mencari sponsor yang siap menanggung penuh. Sejauh ini, sponsor yang masuk "kecil-kecilan". Persis Solo lebih banyak gali lubang tutup lubang untuk mendanai diri termasuk membayar sisa gaji pemain musim ini. (sri rejeki)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang