Pilpres Milik Rakyat

Kompas.com - 08/07/2009, 05:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden berpidato menyambut pemilu presiden dan wakil presiden di Istana Negara, Jakarta, Selasa (7/7). Presiden menegaskan, pilpres adalah milik rakyat karena kedaulatannya ditegaskan dalam pilihan dan didengarkan.

”Para capres dan cawapres telah diberikan ruang dan waktu untuk melakukan kampanye secara adil. Kini, giliran Saudara-saudara-lah yang memiliki hak dan kesempatan untuk menjatuhkan pilihan secara bebas tanpa intimidasi dan tekanan dari siapa pun. Gunakan hak pilih Saudara sebaik-baiknya,” ujar Yudhoyono yang tampil dengan dasi biru langit.

Sebagai kepala negara, Yudhoyono telah berkomunikasi dengan para gubernur seluruh Indonesia untuk memastikan kesiapan seluruh daerah dalam penyelenggaraan pilpres.

”Aparat kepolisian dengan dibantu oleh jajaran TNI juga telah siap untuk mengamankan dan menjaga ketertiban pelaksanaan pemungutan suara,” ujarnya.

Menyangkut permasalahan daftar pemilih tetap (DPT), Yudhoyono mengemukakan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah membetulkan dan memperbaiki. Mahkamah Konstitusi telah memutuskan dapat digunakannya kartu tanda penduduk sebagai identitas agar rakyat bisa menggunakan hak pilihnya jika tidak terdaftar dalam DPT.

”Kita berharap pemungutan suara di TPS-TPS dapat berlangsung dengan baik. Jika masih ada masalah-masalah yang muncul, kiranya KPU dengan jajarannya, dengan dibantu pemda, dapat mengatasinya dengan cepat dan tepat,” ujar Yudhoyono.

Presiden mengharapkan proses pilpres berjalan damai, tertib, demokratis, dan tetap menjaga suasana penuh persatuan dan persaudaraan. ”Insya Allah, kita semua, bangsa Indonesia, mampu mewujudkan kebaikan dan keindahan demokrasi seperti itu,” ujarnya.

Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary juga menyampaikan pidato jelang pilpres di kantor KPU, Selasa malam. KPU mengimbau masyarakat yang terdaftar dalam DPT serta mereka yang memiliki hak pilih tetapi tidak terdaftar dalam DPT untuk memberikan suaranya dalam pilpres. Hafiz didampingi oleh jajaran komisioner KPU.

Hafiz mengingatkan penyelenggara pemilu, baik KPU maupun Bawaslu/Panwaslu, bersikap independen dan jujur dalam penyelenggaraan pemilu. Mereka diminta tak tergoda dengan janji atau iming-iming pihak tertentu sehingga pilpres dapat diselenggarakan dengan seadil-adilnya.

Pikiran jernih jujur

Calon presiden Megawati Soekarnoputri pun mengajak seluruh warga bangsa untuk menghadapi pilpres dengan pikiran jernih dan jujur.

”Pemilu adalah hari bersejarah buat bangsa Indonesia untuk menentukan masa depannya, terutama lima tahun yang akan datang,” kata Megawati di kediamannya di Jalan Kebagusan, Jakarta Selatan. Ia didampingi calon wapres Prabowo Subianto.

Megawati dan Prabowo yakin bangsa Indonesia dapat mewujudkan hari esok yang lebih baik apabila semua pihak bekerja bersama-sama melakukan perubahan untuk kejayaan Indonesia.

Megawati menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga masyarakat yang berpartisipasi menggunakan hak politiknya dalam Pemilu Legislatif 9 April 2009, serta ikut mengawal jalannya pemilu agar tercipta pemilu presiden dan wakil presiden yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, adil, dan bermartabat.

Megawati mengajak masyarakat yang telah memenuhi syarat untuk menggunakan hak politik sebaik-baiknya.

Capres Muhammad Jusuf Kalla yang juga wakil presiden berharap KPU bersikap adil untuk memberikan kesempatan kepada seluruh rakyat untuk menjalankan hak-hak politiknya.

”Bersikaplah juga jujur, adil, dan memberikan kesempatan yang sama kepada pemilih yang terdaftar maupun yang tidak terdaftar,” ujar Kalla di kediaman dinasnya di Jakarta.

Sebagai capres, Kalla mengaku sudah melakukan persiapan sebaik-baiknya. ”Semua hasilnya tentu kita kembalikan kepada Allah SWT, apa pun yang terbaik bagi negeri. Kita juga telah berusaha dengan baik dan kita pun telah berdoa,” ujarnya.(inu/sut/har/mzw)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau