Pilpres di Ambon Sepi

Kompas.com - 08/07/2009, 11:29 WIB

AMBON, KOMPAS.com- Pemungutan suara Pilpres di Ambon, Provinsi Maluku, sepi sejak pagi hingga satu jam menjelang penutupan. Masyarakat datang satu-satu dan tidak ada antrian seperti saat Pemilu Legislatif. Bahkan, petugas di TPS Waihaong harus mengundang warga melalui pengeras masjid supaya nyontreng.

Suasana lengang di TPS ini merata di seluruh Kota Ambon. Warga kurang antusias seperti saat pemilihan anggota legislatif dan dewan perwakilan daerah. 

Di TPS VII Galunggung, pemilih juga sepi, tidak ada warga yang berkumpul di luar ruangan pemungutan suara. Warga yang sudah selesai menyontreng langsung pulang. 

Bachran, Ketua RT 06 RW 06 mengakui antusiasme warga datang ke TPS menurun dibandingkan saat pemilu legislatif.

Waktu yang dibutuhkan setiap pemilih di bilik suara rata-rata kurang dari satu menit. Lembaran kertas yang kecil dan mudah dilipat mempersingkat waktu para pemilih. 

Noferson Hukunala, anggota KPU Maluku berharap, partisipasi pemilih tetap tinggi. Partisipasi pemilih saat Pemilu Legislatif mencapai 82 persen. "Kita harapkan partisipasi pemilih tidak kurang dari 82 persen," ujar Noferson. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau