Golput Kalahkan Suara Kumulatif 2 Pasang Calon di Depok

Kompas.com - 08/07/2009, 16:16 WIB

DEPOK, KOMPAS.com - Angka pemilih di wilayah kesatuan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat yang terdaftar dalam DPT tapi tidak menggunakan hak pilihnya (golput) pada Pilpres, Rabu (8/7) membludak.

Bahkan angka golput yang ada di masing-masing TPS disana melebihi jumlah kumulatif (gabungan) perolehan suara pasangan calon Mega-Pro dan JK-Win. Di TPS 17, angka golput juga mengalahkan angka perolehan suara pasangan pemenang suara terbanyak di TPS, yaitu SBY-Boediono, yang memperoleh 100 suara.

Angka golput di TPS 17 sendiri mencapai angka 130 suara. Gabungan suara pasangan Mega-Pro dan JK-Win saja hanya 25 suara.Untuk TPS 14, angka golput mencapai 88 suara. Angka tersebut unggul dari perolehan suara gabungan Mega-Pro dan JK-Win yang meraih total 41 suara. SBY-Boediono mendapatkan 236 suara.

Sedangkan di TPS 15, angka golput mencapai 133 suara dari 333 suara pemilih yang menyalurkan hak pilih mereka. Angka perolehan suara gabungan pasangan Mega-Pro dan JK-Win, tidak mampu menandingi perolehan itu, karena hanya berjumlah 47 suara.

Jika Pilpres memasukkan golput sebagai peserta. Maka dapat dipastikan yang akan maju ke putaran kedua Pilpres, satu diantaranya adalah golput. (cr1)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau