KULON PROGO, KOMPAS.com — Tiga rumah milik Sumirah (55), warga Dusun Gunungrego, Desa Hargorejo, Kokap, Rabu (8/7) siang, terbakar. Ketika musibah terjadi, rumah tersebut kosong karena ditinggal pemiliknya mencontreng di tempat pemungutan suara.
Menurut keterangan sejumlah warga, kobaran api terlihat pada sekitar pukul 12.30. Kuat dugaan, api bersumber dari hubungan arus pendek jaringan listrik di rumah itu. Api dengan cepat membakar seluruh bangunan rumah yang terbuat dari kayu dan bambu sehingga dalam tempo kurang dari setengah jam, seluruh rumah sudah hangus.
Kobaran api amat besar dan tinggi karena tiupan angin dari barat. Ketinggiannya mencapai pucuk pohon kelapa, sekitar 15 meter, dan hampir mengenai kabel listrik. Hal itu dikatakan Roso (30), warga Gunungrego yang tinggal 100 meter dari lokasi kebakaran.
Roso melanjutkan, warga tidak berdaya memadamkan api karena terlambat mengetahui dan kesulitan mencari air. Letak rumah di bawah tebing jalan raya juga menyulitkan gerak warga yang ingin memadamkan api dengan ember.
Melihat rumahnya habis terbakar, Sumirah langsung berteriak-teriak histeris. Ia segera dibawa ke rumah tetangganya untuk ditenangkan. Sementara itu, Tri Mawarti (18), anak ketiga Sumirah, juga terlihat sedih. Namun, ia bisa mengendalikan emosi. Di rumah itu, Sumirah, yang sudah menjanda, hanya tinggal bersama Tri. Dua anaknya yang lain merantau ke Kalimantan dan Kota Yogyakarta.
Menurut Parmi (35), adik ipar Sumirah, saat kebakaran, kondisi rumah kosong. Sepulang mencontreng di Tempat Pemungutan Suara (TPS) IV Hargorejo, Sumirah tidak kembali ke rumah, tetapi bekerja bersama Parmi di pengepul gula jawa yang berjarak sekitar 500 meter dari kediamannya.
Sementara itu, Tri sempat pulang sebentar ke rumah. Namun, ia pergi lagi karena diajak bermain teman-temannya. Praktis, tidak ada harta benda Sumirah yang bisa diselamatkan. Kerugian ditaksir mencapai jutaan rupiah.
"Untuk sementara, Bu Sumirah dan Tri akan tinggal di rumah saya di Desa Hargowilis. Kami belum tahu apa yang akan dilakukan karena semuanya masih terpukul dan sedih. Kalau membangun rumah lagi, sepertinya sulit karena biayanya mahal," kata Parmi.
Peristiwa kebakaran itu juga menarik simpati dari Camat Kokap Santoso yang langsung hadir ke lokasi bersama Seksi Keamanan dan Ketertiban Kecamatan, Kokap Supriyono. Santoso mengatakan segera memberi bantuan logistik bagi warga yang telah bergotong royong membersihkan puing-puing rumah Sumirah.
Sementara itu, untuk bantuan lain terkait pendirian bangunan baru, Santoso dan Supriyono belum bisa menjanjikan banyak. "Kami punya tenda darurat yang bisa dimanfaatkan sementara dan ada pula stok baju layak pakai. Tetapi untuk bantuan uang atau material rumah, kami perlu membahasnya lebih lanjut karena disesuaikan dengan kemampuan kas kecamatan," kata Supriyono.
Lebih lanjut, Santoso mengimbau warga untuk waspada terhadap musibah kebakaran di musim kemarau. Tidak hanya rumah, tetapi juga hutan dan pekarangan. Sumber api sedikit saja bisa memicu kebakaran karena kondisi alam yang kering. Tahun lalu, sebagian kecil hutan rakyat di Hargowilis terbakar karena kelalaian warga yang sedang membakar sampah. Namun, kebakaran itu bisa segera diatasi sehingga tidak meluas.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang