JAKARTA, KOMPAS.com — Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Kamis (9/7) pagi, stabil seperti hari sebelumnya karena pelaku pasar bersikap menunggu-nunggu perkembangan lebih jauh setelah pelaksanaan pilpres di mana Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono menjadi pemenang sementara dengan meraih angka cukup besar.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tetap pada Rp 10.190-Rp 10.205 per dollar AS.
Pengamat pasar uang, Edwin Sinaga, di Jakarta, Kamis, mengatakan, pelaku pasar masih menunggu kelanjutan dari pilpres tersebut dalam penyusunan kabinet nanti dan isu global. "Isu global menyebutkan bahwa Amerika Serikat memandang perlu untuk melakukan paket stimulus baru untuk memicu pertumbuhan ekonomi," ucapnya.
Menurut Edwin Sinaga, posisi rupiah saat ini dinilai bagus dan kemungkinan peluang untuk menguat lagi makin besar. "Kami optimis peluang rupiah untuk naik sangat besar, setelah duet SBY-Boediono memenangkan pemilu tersebut," katanya.
SBY-Boediono, lanjut dia, merupakan pasangan yang sangat dipercayai pasar untuk melanjutkan program pembangunan dan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi menjadi 5 persen dari sebelumnya 4,3 persen. "Kita lihat saja dulu program yang akan dibuatnya setelah mereka membentuk kabinetnya," katanya.
Sementara itu, ekonom dari Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan, mengatakan, kemenangan SBY dan Boediono akan dapat memicu rupiah menguat hingga Rp 9.500 per dollar AS pada akhir tahun ini. "Duet SBY-Boediono memberikan keyakinan pasar ekonomi Indonesia akan makin membaik," katanya.
Edwin Sinaga mengatakan, kemenangan SBY-Boediono akan meningkatkan investasi asing setelah pelaksanaan pemilihan umum itu berjalan dengan lancar, tenang, dan damai. "Dengan masuknya investasi asing maka ekonomi akan makin tumbuh lebih cepat," katanya.
Sebelumnya Menkeu Sri Mulyani mengatakan, investasi asing diharapkan dapat tumbuh sebesar tujuh persen untuk memicu pertumbuhan sebesar 5 persen. "Dengan investasi asing itu maka target pertumbuhan ekonomi akan dapat dicapai," katanya.