KPU: Belum Tentu Satu Putaran

Kompas.com - 09/07/2009, 12:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kendati hasil penghitungan cepat (quick count) berbagai lembaga survei menunjukkan, kandidat capres dan cawapres nomor urut II, Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, mendapat perolehan suara lebih dari 50 persen, tetapi belum dapat dipastikan pemilu presiden hanya akan berjalan satu putaran.

Demikian disampaikan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Abdul Hafiz Anshary, ketika ditemui di Kantor KPU, Jakarta, Kamis (9/7). "Belum tentu itu kalau nanti hanya satu putaran. Yang jelas hasil dari KPU nanti yang akan menentukan," kata Hafiz.

Ia menjelaskan, KPU akan menggelar rekap manual pilpres pada 22-24 Juli 2009 mendatang. Adapun untuk pemenang pilpres dapat diketahui pada 27 Juli 2009. "Targetnya rekap di PPK tanggal 10-15 Juli, rekap kabupaten/kota 15-18 Juli, dan rekap provinsi 19-21 Juli," jelasnya.

Selain itu, tambahnya, dalam UU Pilpres No 42/2008 Pasal 159 Ayat (1) disebutkan, pasangan calon terpilih adalah pasangan calon yang memperoleh suara lebih dari 50 persen dan jumlah suara dalam pemilu presiden dan wakil presiden dengan sedikitnya 20 persen suara di setiap provinsi yang tersebar di lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia.

"Jadi meskipun di quick count lebih dari 50 persen, tetap harus dilihat sebarannya, minimal 17 provinsi di Indonesia memperoleh 20 persen. Tidak boleh numpuk di satu tempat," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau