KOMPAS.com — Mungkin ini bukan awal yang baik bagi tuan rumah KTT G-8, Italia, dalam menyambut salah satu tamunya dari AS. Hal ini terjadi saat Presiden AS Barack Obama tidak menyambut tawaran jabat tangan dari Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi dan justru terus melanjutkan langkahnya seakan tidak mempedulikan sambutan itu.
Peristiwa itu berlangsung saat Obama tiba di sebuah acara pengambilan foto bersama para pemimpin G-8 pada hari pertama KTT G-8 di L'Aquila, Italia, Rabu (8/7). Berlusconi mencoba menyambut Obama dalam acara itu, tetapi Obama melengos pergi seakan mengacuhkan uluran jabat tangan dari Perdana Menteri Italia itu.
Namun, kedua pemimpin negara tidak membiarkan kejanggalan yang terjadi merusak hari mereka dengan saling berangkulan saat diabadikan gambarnya dalam acara foto bersama para pemimpin G-8 lain. Para pemimpin G-8 itu telah tiba pada sebuah kesepakatan bahwa terlalu dini untuk segera menggulirkan dana senilai multi miliar poundsterling untuk menstimulasi kondisi ekonomi di negara mereka.
Para pemimpin G-8 menyadari terdapat sinyal bahaya yang dapat memicu kondisi resesi ke arah lebih buruk. Sinyal itu dilihat dari pertimbangan melambungnya harga minyak, penolakan bank untuk mulai mengucurkan kredit, lonjakan angka pengangguran, serta munculnya batasan baru terhadap perdagangan.
Dalam sebuah pernyataan gabungan, para pemimpin G-8 menekankan: "Situasi ekonomi masih belum menentu dan risiko signifikan masih mengancam stabilitas ekonomi serta keuangan. Kami akan mengambil langkah penting, baik secara individu maupun kolektif, untuk mengembalikan kondisi ekonomi global ke jalur pertumbuhan yang berkesinambungan, stabil, serta kokoh."
Para pemimpin G-8 mempertimbangkan ide untuk mematok harga minimum dan maksimum minyak dunia pada kisaran 70 hingga 80 dollar AS per barrel guna menghindari fluktuasi yang berpotensi mengguncang perekonomian. Harga minyak dunia, yang sempat anjlok dari sekitar 147 dollar AS pada Juli tahun lalu menjadi 32 dollar AS per barrel pada penghujung tahun 2008, ditutup pada 73 dollar AS per barrel pekan lalu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang