Sekali Lagi tentang Trotoar

Kompas.com - 10/07/2009, 16:34 WIB

KOMPAS.com -  "Saya suka sekali berkunjung ke Amerika Serikat, Jepang dan negara-negara Eropa. Saya bisa jalan sejauh kaki saya mampu berjalan," ujar advokat Todung Mulya Lubis di Jakarta baru-baru ini. "Suasana pun mendukung, serba menyenangkan."

la mencontohkan, berjalan kaki di kota-kota Amerika Serikat memang nyaman. Udaranya bersih dan,sejuk. Para pejalan kakinya santun. Trotoarnya bersih, rapi dan di sisi kiri dan kanannya tumbuh tanaman dengan aneka warga kembang. Lalu di banyak sisi areal pedestrian itu terdapat kafe-kafe udara terbuka. Warga yang ingin rileks, ngobrol bisnis, atau mengetik naskah di laptop, atau sekadar ingin membunuh waktu, dapat singgah di kafe. Minum secangkir kopi atau sepotong kue, Anda sudah bisa duduk di kafe-kafe itu berjam-jam. Tidak usah khawatir "diusir" sebab ada pandangan yang diterima umum, duduk di kafe sambil ngopi bisa menghasilkan karya gemilang.

Mulya Lubis tidak berlebihan. Trotoar di negara-negara maju memang menyenangkan. Selain bersih, iklim dan suasananya sangat mendukung. Warga dari pelbagai negara, yang sangat rapi maupun norak, berjalan riang di areal pejalan kaki itu. Di Chicago, misalnya di kawasan North Michigan clan sekitarnya, di kawasan plaza Chicago dan sekitarnya, warga suka berjalan kaki karena suasananya memang sangat menyenangkan.. Tanaman-tanaman yang menghiasi areal itu berwarna-warni, serba menawan bak dilukis saja. Di kiri kanan jalan, selain kafe, terdapat toko-toko elit dan gedung-gedung dengan arsitektur sangat keren.

Di Paris, salah satu kota paling indah di dunia, trotoarnya juga menarik. Lihatlah di kawasan sekitar menara Eiffel dan sekitarnya, pemandangannya amat menakjubkan. Trotoar-trotoar yang mengitarinya luar biasa bagusnya. Lalu, kafe tegak di mana-mana. Lihatlah pula di kawasan Champs-Elysees dan Arc de Triomphe, waduh, suasananya amat menyenangkan. Kawasan elit Paris ini dibingkai dengan trotoar yang rapi, lebar rata-rata delapan meter. Serba penuh tanaman, dan itu tadi, kafe tegak di mana-mana. Ini masih ditambah dengan pusat belanja yang sangat spektakuler. Toko-tokonya elok, barangnya bagus, penjaga tokonya kelas satu. Ini semua menggoda pengunjung untuk membeli.

Di Tokyo, Jepang, suasananya juga sangat nyaman. Memang harus diakui bahwa atmosfirnya tidak sespektakuler Champs-Elysees, Eiffel dan Arc de Triomphe, tetapi sudah bisa cliberi nilai delapan. Datanglah misalnya ke kawasan Ginza atau sentra bisnis/hunian lainnya. Trotoarnya, meski tidak selebar Paris, tetapi yang pasti, kelas satu. Warga
bahkan bisa lalu lalang di areal pejalan kaki dengan sepedanya. Sebagian tampak sangat tenang mendorong kereta bayinya di situ.

Di Singapura, ada kawasan bernama Orchard Road. Di pusat keramaian Singapura ini terdapat trotoar di kiri kanan jalan dan pohon sangat rindah di kedua sisi. Pada pukul 05.15 hingga pukul 06.35, ribuan burung berkicau di pohon-pohon tinggi Orchard Road. Suara mereka amat riuh, malah lebih gaduh dibanding pabruik tekstil digabung dengan percetakan. Praktis Singapura sangat membanggakan kawasan ini. Maka segala upaya dikerahkan untuk mendandani areal tersebut. Jadilah Orchard Road menjadi ikon negeri pulau itu.

Sangat atraktifnya areal untuk pejalan kaki membuat warga suka berjalan kaki, sekaligus mengurangi penggunaan kendaraan bermotor. Udara lebih bersih dan warga lebih sehat. Dan, satu hal yang kerap tidak disadari, trotoar adalah bingkai sebuah kota. la bukan segala-galanya bagi kota, tetapi tanpa trotoar sebuah kota terasa sangat tidak manusiawi. Bayangkanlah kalau warga yang hendak berjalan kaki (karena jaraknya dekat, atau karena ingin sehat), mesti berlalu lalang di badan jalan. Ini, selain berbahaya, juga tidak sehat. Akan sangat elok kalau ada areal untuk pejalan kaki agar lalu lintas lebih tertib, warga lebih sehat, dan ada usaha mengurangi penggunaan kendaraan bermotor.

DKI Jakarta sebetulnya sudah sangat menyadari masalah ini. Upaya untuk membuat areal bagi pejalan kaki sudah mulai tampak di era Gubernur Sutiyoso. Itu misalnya sangat tampak di JaIan MH Thamrin dan Jenderal Sudirman. Di jalan-jalan lain, sudah ada trotoar, tetapi tidak sebagus dan selebar di Jalan Thamrin dan Sudirman.

Persoalan tentang kawasan untuk pejalan kaki sudah beberapa kali diulas di media ini. Dan karena belum tampak upaya mewujudkan trotoar yang manusiawi, maka perlu diulas kembali. Tujuannya menggugah kembali Pemprov DKI Jakarta untuk berikhtiar lebih membangun areal bagi pejalan kaki (syukur syukur kalau sekaligus membangun areal untuk pengguna sepeda).

Para pengembang di Ibu Kota, juga di kota-kota besar lainnya, yang membangun sentra belanja modern (mal, plaza) dan gedung perkantoran, kiranya bisa berperan aktif menghadirkan trotoar yang manusiawi. Tentu berlebihan kalau membangun trotoar yang berjarak jauh dari lokasi proyek, tetapi setidaknya bagunlah kawasan pejalan kaki yang nyaman di depan, di sisi kiri dan kanan plaza, dan sentra perkantoran. Pengembang, bukanlah "agen pembangunan" sehingga tidak "wajib" membangun trotoar di sekitar mal, apartemen dan pusat perkantoran.

Akan tetapi kalau ada areal pejalan kaki yang manusiawi di depan plaza, perkantoran, dan apartemen, yang meraih benefit adalah pengembang itu sendiri. Warga akan leluasa datang ke lokasi mal, apartemen atau pusat perkantoran. Warga nyaman berlalu lalang di sekitar pusat bisnis dan hunian tersebut. Yang meraih reputasi dan pujian publik adalah pengembang itu sendiri, bukan pemerintah.

Sejumlah pengembang sudah dengan sadar membangun areal elok ini, dan terutama tampak di kawasan Jalan Jenderal Sudirman. Alangkah idealnya kalau pengembang lain melakukan langkah-langkah serupa. Jakarta akan lebih indah, lebih rapi dan lebih manusiawi. Kita memahami keterbatasan DKI Jakarta yang belum bisa membuat trotoar yang bagus di metropolitan ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau