Aku Pengin seperti Taufik

Kompas.com - 11/07/2009, 05:50 WIB

KOMPAS.com — Sambil bersila di lantai dan duduk bertopang dagu, pandangan mata Bagas Aristian Wahyu (12) nyaris tak pernah meninggalkan deretan lapangan bulu tangkis di hadapannya. Tangannya berulang kali menyeka wajah dan rambutnya yang masih dibasahi keringat.

Sugino, ayah Bagas, duduk di sebelahnya sambil memeluk lutut. Tas berisi raket bulu tangkis yang digunakan Bagas terletak di sisinya. Sesekali Sugino mengatakan sesuatu kepada anaknya, yang ditanggapi Bagas dengan anggukan kepala atau senyum.

Fokus perhatian Bagas adalah rekan-rekan seusianya yang sedang unjuk kemampuan di 16 lapangan di dalam GOR Djarum, Kudus. Akhir pekan lalu, bersama sekitar 700 anak lainnya yang berusia 12-15 tahun, Bagas mencoba peruntungan mengikuti audisi beasiswa bulu tangkis yang diselenggarakan Persatuan Bulu Tangkis (PB) Djarum.

”Cita-citaku jadi pemain bulu tangkis terkenal. Aku pengin seperti Taufik,” ujar Bagas lirih, menyebut nama pemain idolanya, Taufik Hidayat. Untuk mencapai impian itu, Bagas rela bangun pagi saat hari masih gelap. Bersama sang ayah, Bagas naik sepeda motor meninggalkan rumahnya di kawasan Jatingaleh, Semarang, pukul lima pagi menuju Kudus agar tidak terlambat mengikuti audisi.

Tekadnya sudah bulat menjadi pemain bulu tangkis sehingga tak ragu untuk tinggal di asrama pemain jika terpilih. ”Ia malah senang, katanya ingin belajar hidup mandiri. Kami juga terbantu kalau ia bisa mengejar cita-citanya di sini karena sebagai anggota klub semua kebutuhannya ditanggung,” ujar Sugino yang sehari-hari berprofesi sebagai buruh lepas.

Bagas tak sendiri. Peserta lainnya juga menyimpan impian serupa: menjadi pebulu tangkis terkenal dan memperbaiki taraf hidup, seperti disampaikan Arsya Isnanu Adi Putra (14).

Sejak sembilan bulan lalu, Arsya meninggalkan Solo, kota kelahirannya, untuk berlatih di klub Champion, Kudus, agar lebih siap mengikuti audisinya yang kedua. Berbekal gelar juara dalam turnamen bulu tangkis kelas pemula di Magelang, Sleman, dan Klaten, Arsya berharap kali ini ia berhasil. ”Di sini enak. Tinggal main saja, enggak usah mikir lain-lain,” ujar Arsya.

Namun, keberuntungan belum memihak kepada keduanya. Setelah tampil dalam audisi tahap pertama selama 10 menit dan tahap kedua selama 20 menit, mereka tersisih. Hanya 60 peserta yang lolos ke tahap ketiga. Setelah setiap peserta bertanding penuh dengan dua lawan berbeda, akhirnya terpilih 24 peserta untuk masuk karantina selama sepekan.

Salah satu yang beruntung adalah Rhidatia Eka Putri (12). Penampilan Rhida yang ulet dan pantang menyerah memikat perhatian tim pelatih PB Djarum yang menjadi juri audisi. Di tengah audisi, bocah asal Bandung ini dipanggil pelatih fisik asal Australia, Jason Kurfurst, untuk menjalani sejumlah tes.

”Ini hanya tes awal karena pelatih melihat ia cukup berbakat. Tes fisik yang lengkap baru dilakukan saat karantina sehingga nanti terpilih pemain yang punya dasar teknik dan fisik yang baik,” ujar mantan pelatih fisik pelatnas Cipayung ini.

Meningkat

Dengan diikuti 700 peserta, audisi beasiswa bulu tangkis yang rutin diselenggarakan setiap tahun ini menjadi yang terbesar yang pernah ada. Tahun lalu, audisi serupa diikuti 445 peserta. Tak hanya dari kota-kota di Pulau Jawa, peserta juga berdatangan dari Solok, Medan, Samarinda, dan Makassar.

Halaman parkir GOR juga dipenuhi berbagai macam kendaraan, termasuk yang bernomor polisi Jambi, Palembang, dan Bali. Ribuan keluarga peserta yang hadir memberi dukungan memenuhi satu sisi GOR hingga ke lantai sisi lapangan yang sehari-hari digunakan anggota klub untuk berlatih itu.

Menurut Ketua PB Djarum Yoppy Rosimin, membeludaknya peserta menunjukkan antusiasme untuk menjadi atlet bulu tangkis tetap tinggi. Audisi juga berlangsung pada saat liburan sekolah.

”Bulan lalu baru berlangsung Indonesia Terbuka Super Series di Jakarta, disusul penayangan film dan peluncuran buku Liem Swie King, salah satu pahlawan bulu tangkis kita, jadi wajar jika minat kepada bulu tangkis semakin tinggi,” ujar Yoppy.

Dengan semakin banyaknya peserta, kesempatan mereka untuk memperlihatkan kemampuan pun semakin terbatas. Mereka hanya mendapat waktu 10 menit untuk membuktikan bahwa mereka layak sehingga penilaian awal hanya pada postur tubuh dan kemampuan stroke (pukulan) peserta.

”Tahun lalu hari pertama audisi berlangsung lewat pukul 10 malam. Dengan peserta yang bertambah banyak, seleksi kali ini diperketat. Pada tahap ketiga mereka baru bertanding sesungguhnya dan tes fisik dilakukan saat mereka dalam karantina,” ujar Ketua Persatuan Olahraga Djarum FX Supanji.

PB Djarum tidak mematok target berapa peserta yang lolos. ”Kami melihat kualitas daripada kuantitas. Dari 24 peserta yang lolos tahap ketiga akan diseleksi lagi kemampuannya. Sejauh ini kejelian tim pelatih kami bisa diandalkan untuk melihat bakat pemain,” kata Supanji.

Setelah lolos karantina, mereka diterima sebagai anggota PB Djarum dan mendapat fasilitas penginapan, makanan, lapangan, dan perlengkapan latihan. Mereka juga dibebaskan dari biaya pendaftaran dan akomodasi jika mengikuti turnamen. Peserta yang berstatus pelajar hanya perlu membayar biaya sekolah di tiga sekolah yang menjalin kerja sama dengan klub.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau