Duh, Si Dia "Sensi" Banget!

Kompas.com - 11/07/2009, 12:41 WIB

KOMPAS.com - Sejak kecil pria dididik untuk pintar menahan dan mengendalikan emosi. Ngambek, apalagi menangis adalah pantangan. Namun, tak semua pria berhati "batu" dan tahan gempur. Sebagian pria lainnya menganggap hal yang wajar menunjukkan sisi emosinya. Sama seperti Anda, dia juga bisa ngambek saat Anda tak bisa memenuhi janji. Atau bisa dengan mudah meneteskan air mata saat hal buruk menimpa atau haru menerpa.

Ada tiga faktor utama yang menyebabkan pria menjadi sensitif. Yang pertama adalah pola asuh, dimana kepribadiannya dipengaruhi oleh nilai dan cara ia dibesarkan. Seseorang yang dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih sayang dan ikatan emosional yang sangat kental akan mudah meneteskan air mata saat diterpa haru.

Yang kedua adalah budaya. Dalam budaya patriarki, posisi pria dianggap berhak menguasai perempuan. Namun kondisi ini terkadang membuat pria ngambek saat ia merasa minder atau terancam oleh perempuan yang memiliki kemampuan melebihi dirinya.

Terakhir adalah faktor hormonal, dimana tingkah sensitif para pria bisa jadi dilatarbelakangi oleh pola temperamen yang dibentuk oleh hormon tersebut. Biasanya pribadi yang berpotensi menampilkan perilaku sensitif adalah mereka yang memiliki pola temperamen melankolis (serius berpikir, sensitif, dan sangat memperhatikan orang lain), berkombinasi dengan sanguinis (ekspresif dan senang diperhatikan). Sehingga, pola agresinya cenderung bersifat pasif. Nah, ngambek adalah salah satu bentuk ketidakpuasan yang bersifat pasif.

Bersikap tegas
Menghadapi pria sensitif memang bukan hal yang mudah. Anda tak boleh terlalu keras atau terlalu memaklumi kebiasaannya. Jangan ragu untuk bersikap tegas bila si dia sering ngambek. Anda bisa berterusterang kepadanya, bahwa Anda tak suka dengan kebiasaannya itu. Mintalah dia untuk menyampaikan dan menjelaskan apa yang tak ia suka. Ajak ia menyelesaikan masalah dengan berkompromi. Jangan biarkan ia diam dan pergi saat masalah belum selesai. Ini akan membuat ia selalu mengulangi kebiasaannya, atau bahkan menjadikan ngambek sebagai senjata menutupi kesalahannya.

Contoh tingkahnya
Kalau kebiasaan ngambek menjadi hal yang biasa ia lakukan, sesekali cobalah melakukan hal yang sama. Bila ia bertanya ada apa dengan Anda, inilah kesempatan bagi Anda untuk menjelaskan kepadanya bahwa sangat tidak nyaman memiliki pasangan yang terlalu sensitif. Salah kata sedikit saja sudah membuat dia diam lantaran tersinggung berat. Anda kerap dibuat menebak-nebak apa keinginannya. Cobalah jelaskan kepadanya bahwa kebiasaannya tersebut dapat merusak komunikasi dalam hubungan Anda berdua.

Beri pujian
Tak jarang, alasan si dia sensi karena merasa kurang percaya diri menghadapi segala kelebihan Anda. Karena minder, ia pun jadi malas mendengar, bahkan merespons berbagai cerita tentang prestasi Anda. Sikapnya cenderung menjadi tak peduli dengan keberhasilan Anda. Bila alasan ini menjadi penyebab atas sikap sensinya, tak ada salahnya bila Anda mencoba memujinya lebih sering. Ini akan membuat ia merasa masih dihormati dan dibutuhkan oleh Anda. Bagaimana pun, ego pria tak ingin kalah dengan perempuan.

(Bestari Kumala Dewi)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau