Pertumbuhan Ekonomi 4,5 Persen Sulit Tercapai

Kompas.com - 11/07/2009, 17:10 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat ekonomi dan perbankan Dr. Muslimin Anwar yang juga staf pengajar program Magister Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia mengatakan, target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,5 persen hingga akhir tahun 2009 sulit tercapai.

"Saya perkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir 2009 tidak  bisa mencapai 4,5 persen, karena masih belum membaiknya konsumsi swasta seiring melemahnya daya beli masyarakat akibat turunnya penghasilan dan meningkatnya PHK belakangan ini belum terselesaikan," kata dia di Jakarta, Sabtu.

Walaupun telah dilakukan pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT), kenaikan gaji PNS, dan masih adanya transfer dari para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri trend-nya menurun seiring dengan PHK yang mereka alami akibat merosotnya aktivitas perekonomian di negara mereka bekerja, katanya.

Dia menambahkan, harus diakui bahwa sampai dengan akhir tahun 2009 sisi permintaan dalam negeri yang disumbang oleh pengeluaran Pemilu cukup besar baik dari pemerintah, swasta, maupun para capres dan cawapres serta tim suksesnya, merupakan motor penggerak pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.

Karena itu, dengan terputusnya satu mata rantai belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga karena tak terjadinya pemilu putaran kedua, otomatis efek multiplier belanja pemilu tersebut menjadi terhenti.  

"Pemilu Pileg dan Pilpres yang dipandang sebagai stimulus bagi sejumlah sektor, seperti sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor industri pengolahan, sektor keuangan, persewaan dan jasa, serta sektor jasa-jasa lain tak lagi berdenyut," tegasnya.
     
Hal ini tentunya akan mengancam pertumbuhan ekonomi nasional sampai akhir tahun 2009 yang pada awalnya diprediksi berada pada kisaran atas 3,5-4,0 persen menjadi cenderung berada pada kisaran bawah rentang tersebut, katanya.
     
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelumnya optimistis  pertumbuhan ekonomi pada tahun ini bisa mencapai 4,5 persen dengan terus stabilnya  kondisi makro ekonomi dan politik di Tanah Air.
     
Menurutnya, kalau kondisi politik stabil dan masalah-masalah dalam pilpres dapat dicarikan solusinya secara damai serta makro ekonomi dikelola dengan baik, ia optimis investasi akan bergerak lebih cepat.
     
"Meskipun sasaran kita pertumbuhan 4,5 persen, selalu ada kemungkinan untuk mencapai lebih dari itu," kata Presiden usai sidang kabinet terbatas pertamanya pasca pilpres di Kantor Presiden Jakarta, Kamis.
     
Presiden juga memperkirakan laju inflasi tahun ini hanya sebesar empat persen, sehingga suku bunga acuan (BI rate) bisa mencapai 6 persen pada akhir tahun ini. Sementara nilai tukar rupiah yang diperkirakan terus stabil dengan masuknya investasi asing.  

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau