ROMA, KOMPAS.com - Transfer pemain besar-besaran yang dilakukan Real Madrid mendapat sorotan tajam dari media massa di Vatikan. Megatransfer itu dapat menaikkan harga transfer dan mendorong klub menuju kebangkitan atau jatuh ke tangan organisasi kriminal.
Sejak Florentino Perez ditunjuk kembali sebagai Presiden Madrid, klub raksasa Spanyol itu kembali membuat kejutan dalam dunia sepak bola. Perez kembali melancarkan aksinya memborong pemain-pemain kelas dunia dengan harga selangit. Untuk empat pemain saja, ia sudah mengeluarkan dana berkisar 215 juta euro atau tiga triliun rupiah lebih. Padahal, klub-klub besar di Inggris pun harus bersusah payah membelanjakan setengah dari jumlah itu.
Harian Osservatore Romano di Vatikan menyoroti hal tersebut sebagai upaya yang kurang bijak dilakukan dalam situasi krisis ekonomi saat ini. Upaya Madrid itu belum tentu membuat sepak bola menjadi semakin menarik.
"Adalah baik mempertanyakan kepada seseorang apakah figur yang dibeli oleh Presiden Real
Madrid saat krisis ekonomi dan finansial dapat dibenarkan dari sudut pandang ekonomi atau apakah mereka tidak dapat memahami aturan dalam dunia transfer," tulis Gaetano Vallini pada kolom editorial. "Juga perlu melihat apakah itu cocok dengan, atau tidak stabil untuk, sepak bola dunia."
Diakui atau tidak, setelah transfer gila-gilaan dari Madrid--dan juga oleh Manchester City, kini banyak klub mulai memasang harga tinggi untuk menjual pemainnya. Akibatnya, tim-tim berpenghasilan pas-pasan sulit memenuhi permintaan besar itu.
Pelatih Liverpool Rafael Benitez, misalnya, menyebutkan bahwa saat ini harga-harga pemain ikut naik setelah melihat standar tinggi yang dibuat Madrid. Pemain pun lebih tertarik pindah ke klub kaya dibandingkan klub dengan prestasi menjanjikan.
Kondisi seperti ini, menurut Osservatore Romano, bakal memicu terjadinya kebangkrutan pada klub-klub lemah. Bukan tidak mungkin liga-liga besar di Eropa bakal diracuni oleh praktik pengaturan skor yang akan membantu klub-klub tersebut agar bisa bertahan lebih lama.
"Risikonya adalah membawa hidup ke tingkat yang lebih tinggi pada situasi ekonomi global dapat membuat hati lebih tenang meskipun ada celah dalam neraca keuangan di banyak klub, dengan menaikkan kemungkinan bakal berakhir pada kebangkrutan, atau jatuh ke tangan organisasi kriminal untuk menanamkan penghasilan mereka dari aktivitas ilegal ke dalam sepak bola," lanjut komentar di harian tadi.
Dampak krisis tidak hanya mengganggu kelangsungan hidup klub-klub kecil. Saat ini sejumlah klub besar di Eropa juga mulai ditampar oleh harga transfer ataupun gaji yang melambung tinggi. AC Milan dan Arsenal, misalnya, harus mengencangkan ikat pinggang dalam bursa transfer musim panas. (AP)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang