IM Telkom Buka Kelas Internasional

Kompas.com - 13/07/2009, 16:42 WIB

Bandung, Kompas - Institut Manajemen Telkom (IMT) membuka kelas internasional mulai tahun akademik 2009/2010. Pembukaan kelas khusus ini merupakan bagian dari upaya IMT untuk memperoleh pengakuan internasional.

Peluncuran kelas internasional Program Studi Manajemen Bisnis Telekomunikasi dan Informatika (MBTI) ini dilakukan pada Sabtu (11/7). Sesuai dengan label internasional, percakapan dan pidato dalam peluncuran kelas ini pun menggunakan pengantar bahasa Inggris. Menurut Dekan Fakultas Bisnis Telekomunikasi dan Media IMT Gadang Ramantoko, kelas internasional yang baru pertama ada di IMT ini didesain khusus dengan standar kurikulum internasional sehingga bukan sekadar label internasional yang selama ini marak di perguruan tinggi swasta.

"Kalau kampus lain, pada umumnya kelas internasionalnya kan sekadar Label. Misal, gelar satu plus satu, dua plus satu, dan lain-lain. Di IMT, kelas internasional ini memang ditujukan untuk pasar luar negeri," ujar Gadang.

Untuk mendapatkan calon mahasiswa asing, IMT dibantu Departemen Luar Negeri. "Kami mendapatkan tawaran mahasiswa asal negara-negara Islam yang sedang dilanda konflik," katanya.

Pada tahun pertama, kelas internasional Program Studi MBTI IMT akan diisi empat mahasiswa asing asal Palestina dan Tujikistan. Adapun mahasiswa asal Indonesia berjumlah 24 orang. "Harapan kami, setelah lulus nanti, mereka mampu berkompetisi di kancah global dengan lulusan lain dari berbagai negara," kata Rektor IMT Asep Suryana Natawira. Kurikulum khusus

Gadang menjelaskan, berbeda dengan kelas reguler dari program studi serupa, kelas internasional ini memiliki kurikulum khusus. "Arahnya ke bisnis (telekomunikasi) internasional. Jadi, mahasiswa lokal pun akan punya kemampuan yang lebih global," ucapnya. Secara berkala mahasiswa akan diajar dosen tamu dari Malaysia, Jepang, dan Korea Selatan. "Program ini adalah terobosan dalam upaya merealisasikan IMT sebagai perguruan tinggi kelas dunia. Mudah-mudahan menjadi model bagaimana perguruan tinggi mendapat pengakuan internasional," tutur Dedi Supriadi dari Yayasan Pendidikan Telkom.

Adapun biaya kuliah di kelas internasional ini, ungkap Gadang, mencapai Rp 140 juta. Dibandingkan dengan kelas reguler, biaya kelas internasional ini jauh lebih tinggi. Biaya SPP kelas internasional Rp 10 juta atau dua kali lipat dari reguler. "Biaya ini termasuk untuk sertifikasi internasional, magang, dan studi banding ke luar negeri," kata Gadang. Bahasa Inggris

Dalam pidatonya, Direktur Kelembagaan Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Hendarman berpesan kepada calon mahasiswa agar berani dan aktif berbicara dalam bahasa Inggris. Berdasarkan pengalamannya saat kuliah di luar negeri, kemampuan berbahasa Inggris sangat menentukan kesuksesan akademis.

"Mahasiswa harus lebih aktif berbicara dan berwawasan global. Di tempat kita (Indonesia), ini memang belum biasa, tetapi harus dimulai," katanya. (jon)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau