Suhu Tubuh Sultan 39 Derajat Celsius

Kompas.com - 13/07/2009, 20:44 WIB

PADANG, KOMPAS.com — Sultan Farhan (9), terduga flu babi (H1N1), meninggal dunia setelah mendapat perawatan selama 1,5 jam di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr M Djamil pukul 18.00, Minggu (12/7).

Jenazah murid SD 05 Padangpasir, Padang, tersebut sempat disemayamkan semalam di rumah sakit, sebelum dibawa pihak keluarga untuk dimakamkan di Guguk Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam, Senin (13/7).

Menurut Direktur Umum, Sumber Daya Manusia (SDM), dan Pelayanan RSUP Dr M Djamil, dr Aguswan, sebelum dirujuk di ruang isolasi RSUP Dr M Djamil pukul 16.30, Sultan sempat mendapat perawatan di RS Yos Sudarso kurang lebih satu jam. 

"Saat itu suhu tubuh korban 39 derajat celsius, sedangkan panas tubuh penderita flu burung biasanya 37,7 derajat celsius," ujar dr Aguswan saat jumpa pers dengan wartawan, terkait meninggalnya pasien suspect flu babi pertama di Sumatera Barat tersebut, Senin (13/7).

Meski kondisi tubuh pasien saat dirawat sama dengan gejala flu babi, dr Aguswan belum memastikan pasien menderita flu babi. Namun, sejumlah sampel darah pasien sudah dikirim ke laboratorium Departemen Kesehatan di Jakarta untuk memastikan korban benar terkena virus flu babi atau tidak.

"Diagnosa awal pasien diduga atau suspect flu babi, untuk kejelasannya kita harus menunggu hasil labor dari Jakarta," ujar dr Aguswan.

Diagnosis awal tersebut, katanya, tidak hanya dari ciri fisik yang dialami pasien seperti panas demam tinggi dan sesak napas saat dirawat di rumah sakit, tetapi juga ada indikasi terjadinya kontak fisik dengan orang asing atau orang bule.

Aguswan berasumsi, selama ini kasus flu babi yang ditemukan di Indonesia kebetulan ditularkan oleh orang asing yang berkunjung ke Indonesia. Karena pengakuan anggota keluarga, korban pernah kontak fisik dengan seorang bule saat berada di Jakarta, makanya poin tersebut juga menjadi perhatian rumah sakit. Kontak fisik yang dimaksud adalah korban sempat bersentuhan dengan orang bule saat mandi di luncuran air Waterboom Dunia Fantasi, Jakarta. Jadi, bukan kontak fisik dalam arti lain.

"Dari riwayat korban, yang bersangkutan pernah kontak dengan orang bule tapi bukan berarti orang bule tersebut pembawa virus, ini akan kita telusuri," ujar Dr Aguswan.

Namun, kata Aguswan, panas tinggi bisa juga disebabkan infeksi pada tubuh seseorang. Pasalnya, korban juga diduga menderita sakit pada bagian punggung. Sakit pada punggung ini disebabkan bersentuhan dengan orang bule ketika korban sedang mandi di Dunia Fantasi Jakarta.

"Ini perlu saya tekankan agar jangan ada asumsi lain bahwa yang dimaksud kontak fisik tersebut diartikan kontak seks," ujar Aguswan menjelaskan lebih detail lantaran ada penafsiran yang salah dari pemberitaan sebuah media yang berasumsikan hal seperti itu. 

Sebelum dirawat di RSUP Dr M Djamil, Sultan sempat mendapat perawatan di RS Yos Sudarso sekitar pukul 15.00. Kemudian pihak rumah sakit Yos Sudarso merujuk Sultan ke RSUP Dr M Djamil pukul 16.30. Setelah 1,5 jam kemudian, tepatnya pukul 18.00, Sultan meninggal dunia saat dirawat di ruang isolasi RSUP Dr M Djamil Padang.

Anak dari pasangan Ikhlas dan Melina ini tercatat murid kelas IV SD 05 Padangpasir Padang. Sebelum dirawat di RS Yos Sudarso, Sultan menderita demam selama 10 hari sejak berada di Jakarta, di rumah kakeknya untuk menghabiskan masa liburan sekolah.

Sesuai prosedur tetap (protap) suspect flu babi dan flu burung, jenazah Sultan dimandikan di rumah sakit. Pukul 11.30, sesudah dishalatkan di Masjid Sahara Padang Pasir, jenazah Sultan langsung dibawa ke kampung halaman untuk dimakamkan di Guguk Randah Kecamatan IV Kota Kabupaten Agam. (yst)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau