ICW: Meski Berbentuk Perppu Harus Berkualitas

Kompas.com - 14/07/2009, 18:58 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah berjanji pada rapat koordinator pemberantasan korupsi untuk mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) jika DPR periode 2004-2009 gagal menyelesaikan RUU Tipikor. Namun, Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai janji tersebut belum cukup. “Pemerintah harus memberikan jaminan bahwa Perppu yang dihasilkan berkualitas. Artinya Perppu mendukung KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan pengadilan tipikor dalam memberantas korupsi,” kata Wakil Ketua Badan Pekerja ICW Emerson Yuntho saat dihubungi Kompas.com melalui telepon, Selasa (14/7).

Sebelumnya, KPK bersama kelompok Cicak (Cinta Indonesia, Cinta KPK) melihat ada bagian RUU Tipikor (tindak pidana korupsi) yang sangat berpotensi untuk melemahkan peran KPK dan pengadilan tipikor dalam menangani korupsi di Indonesia.

Menurut Emerson, komposisi hakim di pengadilan tipikor sebagaimana ada dalam RUU Tipikor tidak berimbang. “Hakim karier kok lebih banyak daripada hakim Ad Hoc. Padahal selama ini hakim Ad Hoc lebih banyak daripada hakim karier. Logikanya terbalik,” ungkapnya.

Dengan komposisi seperti itu, lanjut Emerson, dikhawatirkan pengadilan tipikor kurang bergigi. Akan banyak pelaku korupsi yang ditangkap KPK lolos dalam pengadilan tipikor. Perbandingannya, banyak koruptor bebas saat diadili di pengadilan umum yang mana terdiri dari para hakim karier. ”Berdasarkan pantauan ICW, hampir 50 persen kasus korupsi yang ditangani pengadilan umum dinyatakan bebas. Ini memprihatinkan,” papar Emerson.

Untuk itu, pihaknya sangat berharap baik parlemen maupun pemerintah memberikan dukungan politik dalam bentuk regulasi untuk mendukung peran KPK dan pengadilan tipikor dalam penanganan kasus korupsi di Indonesia. ”Peluang-peluang pelemahan KPK dan pengadilan tipikor itu lewat regulasi. Kalau regulasinya lemah maka akan memakan lembaga yang bersangkutan,” tandas Emerson.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau